SUKABUMIUPDATE.com – Upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di kawasan bersejarah Palagan Bojongkokosan, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, Senin (17/8/2026), sempat diwarnai insiden teknis saat proses pengibaran bendera Merah Putih.
Berdasarkan pantauan di lokasi, setelah lagu Indonesia Raya selesai dikumandangkan dan bendera telah mencapai puncak tiang, bendera Merah Putih tiba-tiba terlepas dari pengaitnya. Petugas segera menangani situasi tersebut, sementara peserta upacara tetap berdiri tenang di barisan hingga rangkaian acara berlanjut.
Camat Parungkuda, Hasanudin, menjelaskan bahwa insiden tersebut bukan disebabkan putusnya tali bendera, melainkan karena pengait yang terlepas.
“Tadi pas menaikkan bendera, bendera sudah di atas, tiba-tiba talinya terlepas. Jadi lepaslah itu,” kata Hasanudin kepada sukabumiupdate.com.
Ia memastikan tidak ada bagian tali yang putus dalam kejadian tersebut.
“Talinya enggak putus. Pengaitnya. Saya juga tadi memastikan. Ketika di sana memastikan, ternyata enggak ada yang putus,” ujarnya.
Baca Juga: Palagan Bojongkokosan Tanamkan Semangat Nasionalisme bagi 35 Calon Paskibra Parungkuda
Menurut Hasanudin, kejadian tersebut murni insiden teknis yang tidak diinginkan panitia. Meski demikian, ia mengapresiasi sikap peserta upacara yang tetap tenang dan tertib.
“Kalau dari sisi peserta ini luar biasa. Dari awal sampai dengan akhir tidak ada celah, tidak ada negatif. Tetapi mungkin ini dari sisi teknis,” katanya.
Hasanudin menegaskan, persiapan pelaksanaan upacara sebenarnya telah dilakukan secara maksimal. Anggota Paskibraka Kecamatan Parungkuda mulai menjalani latihan sejak 15 Juli 2026 hingga 15 Agustus 2026, kemudian mengikuti karantina dan pengukuhan sehari sebelum upacara.
Selain itu, gladi dan pengecekan sarana pendukung juga telah dilakukan.
“Sebenarnya sudah (kami cek). Setiap hari pun bahkan kemarin terakhir kita ada gladi. Saya sendiri, Pak Kapolsek hadir di sini. Gladi juga untuk memastikan, terutama kalau gladi mungkin dari rangkaian acara. Tentunya juga sebenarnya ini tercek juga,” tuturnya.
Meski demikian, ia mengakui insiden tersebut akan menjadi bahan evaluasi agar tidak terulang pada pelaksanaan upacara berikutnya.
“Dari sarana yang memang mungkin ke depan sekali lagi ini menjadi bahan evaluasi bagi kami sebagai panitia penyelenggara. Mudah-mudahan ke depannya tidak terjadi lagi seperti ini,” katanya.
Hasanudin menegaskan pihaknya tidak ingin mencari pihak yang harus disalahkan atas kejadian tersebut.
“Tetapi ya seperti itu, kita tidak mencari siapa yang salah, tetapi fokus kepada perbaikan ke depannya seperti apa,” ucapnya.
Baca Juga: Dapat Remisi HUT ke-81 RI, 17 Napi Lapas Warungkiara Sukabumi Hirup Udara Bebas
Dukungan juga diberikan kepada para Paskibraka setelah kejadian tersebut. Hasanudin menyebut Danramil, Kapolsek dan anggota DPRD yang hadir memberikan semangat agar para petugas tetap menjalankan tugas hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai.
“Dari para peserta juga sangat mendukung. Lalu kemudian juga tadi disampaikan Pak Danramil, Pak Kapolsek, Pak Dewan juga memberikan support kepada para Paskibra untuk tetap semangat,” ujarnya.
Setelah prosesi pengibaran, rangkaian peringatan HUT ke-81 RI di Kecamatan Parungkuda berlanjut dengan kegiatan yang sebelumnya telah disiapkan panitia. Salah satunya karnaval yang diikuti delapan desa.
Masing-masing desa menampilkan potensi yang dimiliki wilayahnya. Antusiasme masyarakat terlihat dari kepadatan di sekitar lokasi kegiatan. Tidak hanya lapangan yang dipenuhi warga, area di bawah pepohonan pun ikut dipadati masyarakat.
Hasanudin memperkirakan jumlah warga yang hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut mencapai sekitar 1.000 orang.
“Kurang lebih kalau bisa dilihat ya, karena memang bukan hanya di lapang saja ya, tetapi di bawah pohon itu hampir penuh,” katanya.
Padatnya lokasi kegiatan membuat pihak kecamatan mempertimbangkan penggunaan tempat yang lebih luas untuk pelaksanaan kegiatan serupa ke depan, sehingga masyarakat bisa mengikuti rangkaian acara dengan lebih leluasa.
Hasanudin juga mengapresiasi antusiasme warga Parungkuda yang menurutnya menunjukkan kekompakan masyarakat. Ia mengaku terkesan melihat warga tetap kompak mengikuti kegiatan, meski persiapan karnaval dari panitia menurutnya tidak terlalu matang.
“Di perkotaan tetapi masyarakatnya masih kompak, masih sangat kompak,” katanya.
Bagi Hasanudin, antusiasme tersebut menjadi bagian dari makna peringatan kemerdekaan yang digelar di Palagan Bojongkokosan. Menurutnya, Parungkuda memiliki kekhususan karena memiliki lokasi yang berkaitan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan.
“Parungkuda memiliki hal yang berbeda tentunya dengan kecamatan yang lain. Ini kita memiliki Bojongkokosan, Palagan Bojongkokosan di mana di Indonesia hanya dua ya, di Ambarawa dan dengan di kita di sini,” tuturnya.
Karena itu, ia berharap masyarakat yang datang tidak hanya memeriahkan peringatan 17 Agustus, tetapi juga memahami nilai yang terkandung di balik tempat tersebut.
“Dengan hadirnya ke sini, dengan memeriahkannya 17 Agustus, kita bisa memaknai kemerdekaan itu lebih dalam lagi. Terutama dari persatuan dan kesatuan kita,” pungkasnya.















