Angka Kematian Bayi di Sukabumi Tertinggi ke-3 di Jabar, BKKBN Perkuat Edukasi Ibu Hamil

Sukabumiupdate.com
Jumat 09 Okt 2026, 21:23 WIB
Angka Kematian Bayi di Sukabumi Tertinggi ke-3 di Jabar, BKKBN Perkuat Edukasi Ibu Hamil

Wamendukbangga, Isyana Bagoes Oka saat diwawancarai di Desa Gedepangrango, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi. Jumat (9/10/2026). (Sumber : SU/Asep Awaludin).

SUKABUMIUPDATE.com - Angka Kematian Bayi (AKB) di rumah sakit di Kabupaten Sukabumi menjadi perhatian setelah disebut masuk tiga tertinggi di Jawa Barat. Catatan tersebut disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat berkunjung ke Sukabumi pada Agustus 2026 lalu.

Merespons kondisi itu, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN mendorong penguatan langkah pencegahan melalui edukasi kesehatan bagi ibu hamil dan bayi, dengan melibatkan kader di tingkat wilayah.

Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Wakil Kepala BKKBN, Isyana Bagoes Oka, mengatakan edukasi kepada ibu hamil perlu diperkuat agar pemeriksaan kesehatan selama kehamilan dilakukan secara rutin. Langkah ini dinilai penting untuk mendeteksi potensi gangguan kesehatan sejak dini.

“Kalau dari Kemendukbangga itu tugasnya memang edukasi, edukasi, dan edukasi, dan penggerakan. Yang paling penting adalah bagaimana para kader terus mengingatkan ibu-ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kesehatan pada saat kehamilan,” ujar Isyana kepada sukabumiupdate.com, Jumat (9/10/2026).

Baca Juga: Ijazah, Kekuasaan dan Ujian Keberanian DPR

Menurutnya, pemeriksaan kehamilan dapat membantu tenaga kesehatan mengenali risiko yang berpotensi memengaruhi keselamatan ibu maupun bayi. Dengan demikian, langkah penanganan dapat dilakukan lebih awal sesuai kondisi yang ditemukan.

“Sehingga jika ada hal-hal yang ternyata dilihat dari pemeriksaan kesehatan itu, bisa diantisipasi sejak dini, sehingga nanti pada ujungnya adalah menurunkan angka tersebut,” katanya.

Selain menyoroti angka kematian bayi, Isyana juga menjelaskan upaya pemerintah menekan prevalensi stunting. Berdasarkan hasil pengukuran tahun 2024 yang disampaikannya, angka stunting nasional tercatat sebesar 19,8 persen, turun dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 21 persen.

Untuk menjaga tren penurunan tersebut, Kemendukbangga mendorong dua pendekatan, yakni intervensi spesifik dan intervensi sensitif.

Baca Juga: Jamban Helikopter Masih Digunakan Warga Sukabumi, Wamendukbangga: Berisiko Picu Stunting

Intervensi spesifik berkaitan langsung dengan pemenuhan kebutuhan gizi, termasuk pemberian makanan tambahan bagi kelompok yang membutuhkan. Sementara itu, intervensi sensitif mencakup perbaikan lingkungan dan perilaku hidup sehat yang mendukung tumbuh kembang anak.

“Kalau intervensi spesifik itu diberikan gizi, pemberian makanan tambahan supaya gizinya tambah baik,” paparnya.

Isyana juga menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu upaya pemenuhan gizi yang dapat mendukung pencegahan stunting, khususnya bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Adapun intervensi sensitif, lanjutnya, perlu dimulai dari lingkungan keluarga melalui edukasi pola asuh, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta peningkatan akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak.

Baca Juga: Asep Hidayat Masuk 3 Besar DPD RI Awards 2026, Hanjeli dan Kemandirian Pangan dari Sukabumi

“Intervensi sensitif itu adalah hal-hal yang terkait, misalnya pemberian edukasi tentang pola asuh yang baik, pemberian edukasi tentang pola hidup bersih sehat, termasuk juga kebersihan, ketersediaan sanitasi, jamban yang baik, tidak buang air besar sembarangan, kemudian juga ketersediaan air bersih,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Isyana turut menyoroti praktik penggunaan jamban yang langsung membuang kotoran ke kolam atau empang, yang dikenal masyarakat sebagai jamban helikopter. Menurutnya, kondisi sanitasi yang tidak layak dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan dan infeksi, terutama pada anak-anak.

Infeksi yang terjadi berulang kali dapat mengganggu kondisi kesehatan dan pemenuhan gizi anak sehingga berisiko memengaruhi pertumbuhan mereka. Karena itu, upaya pencegahan stunting tidak cukup hanya melalui pemenuhan makanan bergizi, tetapi juga harus disertai perbaikan sanitasi dan kebersihan lingkungan.

“Kalau mereka lebih sering sakit, kemungkinan infeksi akan lebih tinggi. Pada saat infeksi lebih tinggi, berat badan akan cenderung lebih turun. Ketika kondisi kesehatannya menurun, kemungkinan terkena infeksi lagi juga semakin tinggi, sehingga menjadi sebuah siklus yang tidak baik. Tentu saja ini untuk pencegahan stunting,” pungkasnya.

Baca Juga: Diduga Dianiaya Teman Sekolah, Pelajar SMP di Cikembar Sukabumi Alami Memar di Kepala

Penguatan edukasi kepada ibu hamil, pemenuhan gizi, serta perbaikan sanitasi dan lingkungan diharapkan dapat berjalan beriringan dalam mendukung kesehatan ibu dan anak, termasuk menekan risiko kematian bayi dan stunting.

 

Berita Terkait
Berita Terkini