Miran, Si Pemburu Kerajaan Semut Merah dari Pangumbahan Kabupaten Sukabumi

[object Object]
Minggu 26 Mar 2017, 04:57 WIB
Miran, Si Pemburu Kerajaan Semut Merah dari Pangumbahan Kabupaten Sukabumi

SUKABUMIUPDATE.com - Hidup adalah berjuang dan terus berjuang, ini salah satu moto hidup yang selalu dipegang Miran (40) bapak dua anak warga Kampung Ciburial, RT 01/08, Desa Pangumbahan, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi.

Gagal menekuni usaha tani tak membuat Miran putus asa, ia terus mencari peluang walau harus berjalan kaki jauh menyusuri hutan demi kerajaan semut merah. Sejak empat tahun silam, suami Omat (30) sekaligus ayah dari Nurhayati (17) dan Farhan Dika (12), banting stir dari menggarap sawah menjadi pemburu telur semut merah atau kroto.

Setiap hari sejak pagi, Miran keluar rumah menyusuri perkebunan dan hutan di pesisir pantai Selatan Sukabumi. Langkah kakinya perlahan dengan mata yang terus memerhatikan pepohonan, semak belukar, gundukan tanah hingga rawa berlumpur.

Panas terik hujan angin tak mampu membendung langkah miran mencari kroto. “Dulu saya garap sawah keluarga tapi hasilnya nggak besar karena butuh modal besar. Saya ditawari pengepul kroto. Ini nggak butuh modal,” ujar Miran kepada sukabumiupdate.com, di sela berburu kroto, Minggu (26/3).

Berbekal galah bambu panjang, perjalananya Miran akan berhenti di setiap pepohon rindang atau semak belukar lebat. Matanya cukup awas mencari gundukan daun diatas pohon, yang biasanya menjadi sarang semut merah.

BACA JUGA:

Kacamata Gaul Frame Kayu Maple a la Perajin di Kota Sukabumi

Menjaga Tradisi Bambu ala Warga Muaradua Kabupaten Sukabumi

Terobosan Perajin Ijuk Kalibunder Kabupaten Sukabumi

Per kilogram terlur semut merah atau krotor dijual Miran kepada pengepul dengan harga Rp100 ribu rupiah. Ini harga terendah jika stok kroto banyak, namun jika pasokan dari pemburu lainnya berkurang harga kroto bisa naik dua kali lipat.

“Lumayan, alhamdulilah. Bisa untuk anak bungsu saya yang masih sekolah. Kalau yang tua udah kerja di Jakarta sebagai pembantu rumah tangga. Saya juga bisa punya motor second dari kroto ini. Lumayan untuk jual kroto karena pengepulnya ada di Desa Cikangkung tiga kilometer dari kampung saya,” ungkap Miran lebih jauh.

Dalam sehari, jika cuaca cerah, Miran bisa mendapatkan minimal dua kilogram kroto. Namun perjalanan lebih kurang enam kilometer perhari ini kadang hanya bisa mengumpulkan setengah kilogram kroto, terutama saat hujan, seperti saat ini.

“Awalnya sih sempet demam karena sering digigit semut, tapi lama-lama biasa, sakit dikit aja. Saya kumpulin dulu. Sudah banyak baru dibawa ke pengepul. Semoga musim kicau mania lama, jadi yang nyari kroto terus banyak,” pungkas Miran.

Kroto semut merah memang menjadi primadona pakan burung berkicau yang hingga saat ini masih booming di Indonesia. Kroto juga masih digunakan untuk umpan pancing kolam, sehingga pangsa pasarnya tetap tinggi.

Berita Terkini