Alasan Colt Mini L300 Bogor-Sukabumi Dijuluki Mobil Setan, Ini Cerita Sopirnya

Sukabumiupdate.com
Senin 19 Jan 2026, 16:40 WIB
Alasan Colt Mini L300 Bogor-Sukabumi Dijuluki Mobil Setan, Ini Cerita Sopirnya

Ade (56), sopir Colt Mini L300 jurusan Sukabumi–Bogor, terlihat berada di balik kemudi. Selama lebih dari 20 tahun ia mengaspal dan dikenal dengan julukan “mobil setan”. (Sumber : YouTube Denkus Channel)

SUKABUMIUPDATE.com - Julukan “mobil setan” kerap disematkan warga pada angkutan Colt Mini L300 jurusan Sukabumi–Bogor. Julukan itu muncul bukan tanpa alasan. Kecepatan tinggi dan manuver berani di jalur padat membuat sebagian penumpang bergidik ngeri, meski tetap menjadi pilihan favorit untuk mengejar waktu.

Cerita di balik julukan tersebut diungkap Ade (56 tahun), salah satu sopir senior yang telah 20 tahun setia menggeber Mitsubishi L300 Diesel 2300 cc jurusan Sukabumi-Bogor.

Dalam bincang-bincang di kanal YouTube Denkus Channel yang dikutip sukabumiupdate.com, Senin (19/1/2026), Ade mengungkap alasan sebenarnya mengapa para sopir L300 kerap membawa mobil dengan "ugal-ugalan".

“Soalnya bawa mobilnya ya gitulah (ngebut) orang-orang pada ngeri," ujarnya terkait julukan mobil setan.

Menurut Ade, gaya mengemudi cepat kerap bukan semata keinginan sopir, melainkan dorongan dari penumpang yang ingin segera sampai tujuan, terutama pada hari kerja.

“Kalau bawa mobil pelan, penumpang sudah nggak mau naik lagi. Apalagi hari Senin, orang-orang mau kerja ke Jakarta. Dari Sukabumi berangkat setengah empat pagi, sampai Ciawi biasanya salat subuh dulu, biar nggak kena macet Jakarta,” ungkapnya.

Baca Juga: 10 Fakta Menarik Colt Mini L300 Bogor-Sukabumi, Angkutan Super Ngebut!

Ade mengakui, kondisi lalu lintas juga memengaruhi kecepatan kendaraan. Kemacetan di jalur utara Sukabumi menjadi tantangan tersendiri, sehingga sopir kerap berpacu dengan waktu di ruas jalan tertentu, dan memaksa mereka harus bergerak cepat jika ada kesempatan jalan luang.

“Iya, kita terdorong dari penumpang. Alasannya ya itu, kejar waktu,” katanya.

Ia menuturkan, masa keemasan angkutan Colt Mini terjadi sebelum pandemi Covid-19. Saat itu, jumlah penumpang masih tinggi dan penghasilan sopir cukup besar.

“Dulu penghasilan saya per hari bisa sampai Rp500 ribu. Alhamdulillah, dari nyupir ini saya bisa nyekolahin anak sampai S2. Anak tiga, semuanya belum berkeluarga,” ungkapnya.

Ade juga menjelaskan bahwa keterampilan membawa mobil dengan cepat dan presisi bergantung pada jam terbang dan “feeling” pengemudi.

“Stirnya pakai power steering, jadi refleks. Selama kepala mobil masuk, belakangnya bisa kita kontrol lewat spion. Walaupun sempit, asal berani,” ujarnya.

Baca Juga: Mendebat Aturan dan Sanksi untuk Merokok Saat Berkendara di Mahkamah Konstitusi

Namun, ia tak menampik gaya mengemudi tersebut kerap memicu ketegangan dengan pengendara kendaraan besar seperti truk dan kontainer.

“Kadang sopir mobil gede suka marah, ya saya biarin aja, memang kita salah. Tapi penumpang Sukabumi mah sudah tahu, dibawa ugal-ugalan juga mereka diam saja,” ucapnya.

Terkait perawatan kendaraan, Ade menegaskan bahwa faktor keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Rem dan kopling menjadi komponen yang selalu dicek sebelum berangkat.

"Perawatan Rem yang paling utama, kopling, jangan sampai mogok di jalan. Sebelum berangkat cek oli dan kondisi mesin. Kalau dieselnya lemah, tenaganya juga lemah. Tapi kalau dieselnya bagus, wuih kenceng bawanya, enak lagi dipakainya juga," jelasnya.

Ade menambahkan, mobil yang digunakannya tidak mengalami modifikasi khusus dan masih dalam kondisi standar pabrikan. Menurutnya, perbedaan ada pada keberanian dan kemampuan sopir dalam mengendalikan kendaraan.

Saat ini, mobil Colt Mini yang ia kemudikan beroperasi setiap hari sebagai angkutan umum dengan ritase rata-rata tiga kali pulang-pergi (PP). Persaingan dengan transportasi online dan travel membuat jumlah perjalanan berkurang dibandingkan sebelumnya.

“Sekarang paling tiga PP. Dulu bisa empat,” katanya.

Untuk sistem kerja, Ade menyetor kepada pemilik kendaraan sebesar Rp100 ribu per perjalanan. Sebelumnya, setoran bisa mencapai Rp150 ribu per PP. Dengan kapasitas maksimal 14 penumpang dan tarif Rp45 ribu per orang, Colt Mini masih menjadi andalan masyarakat Sukabumi yang ingin cepat sampai Bogor.

Meski dijuluki “mobil setan”, bagi sebagian penumpang, kecepatan justru menjadi alasan utama memilih angkutan legendaris tersebut.

Berita Terkait
Berita Terkini