SUKABUMIUPDATE.com - Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak, merupakan salah satu papatah leluhur Sunda yang sangat dalam maknanya.
Ungkapan ini bukan sekadar berbicara tentang gunung dan lembah, tetapi juga mencerminkan cara pandang leluhur Sunda terhadap hubungan manusia dengan alam, kehidupan, dan kepemimpinan.
Secara harfiah papatah ini memiliki arti “Gunung tidak boleh dihancurkan, lembah tidak boleh dirusak”. Namun di baliknya tersimpan pesan dan amanat yang akan sangat berpengaruh pada kehidupan generasi selanjutnya.
Baca Juga: 17 Nasihat Karuhun Sunda untuk Para Pemimpin: Nyaur Kudu Diukur, Nyabda Kudu Diunggang
Makna Filosofis
Leluhur Sunda memandang alam sebagai titipan yang harus dijaga, bukan dieksploitasi sesuka hati. Paribasa ini mengajarkan bahwa;
1. Alam harus dijaga keseimbangannya
Gunung dan lembah memiliki fungsi masing-masing, seperti gunung menjadi daerah resapan air, hutan menjaga keseimbangan ekosistem, dan lembah menjadi tempat kehidupan manusia dan pertanian. Jika salah satunya rusak, maka keseimbangan alam akan terganggu.
2. Manusia tidak boleh serakah
Karuhun Sunda memahami bahwa manusia membutuhkan alam untuk hidup. Namun kebutuhan itu harus dibatasi oleh kebijaksanaan. Leluhur Sunda memiliki aturan ambil secukupnya, rawat seperlunya, dan wariskan kepada generasi berikutnya.
3. Menjaga tatanan yang sudah baik
Makna paribasa ini juga bisa diterapkan dalam kehidupan sosial. "Gunung" dan "lebak" dapat dimaknai sebagai simbol tatanan masyarakat.
Pesannya yaitu jangan merusak sesuatu yang sudah berjalan baik hanya demi kepentingan sesaat.
Baca Juga: 22 Ucapan Pernikahan Bahasa Sunda Lengkap dengan Artinya
Dampak Baik Jika Mengamalkannya
Ada banyak hal baik saat papatah ini diamalkan dengan baik oleh semua kalangan masyarakat, seperti;
- Hutan tetap terjaga
- Sumber air tetap tersedia
- Tanah tetap subur
- Banjir berkurang
- Longsor berkurang
- Kekeringan dapat diminimalkan
- Air mengalir dengan baik
- Tanah tetap produktif
- Petani dapat bercocok tanam secara berkelanjutan
- Masyarakat hidup selaras dengan alam
- Konflik akibat perebutan sumber daya juga berkurang
Dampak Buruk Jika Melanggarnya
Begitupun saat pepatah ini diacuhkan, maka akan menyebabkan banyak terjadi hal buruk, seperti;
- Longsor
- Erosi
- Hilangnya sumber mata air
- Musim hujan menimbulkan banjir
- Musim kemarau menyebabkan kekeringan
- Hewan dan tumbuhan kehilangan habitatnya
- Banyak spesies menjadi langka bahkan punah
- Tanah menjadi tandus
- Ketersediaan air berkurang
- Produktivitas lahan menurun
- Perebutan air meningkat
- Ketimpangan ekonomi membesar
- Kehidupan masyarakat menjadi tidak harmonis
Relevansi dengan Zaman Sekarang
Menariknya, nasihat ini justru semakin relevan saat ini, ketika banyak terjadi alih fungsi lahan, penebangan hutan, pertambangan berlebihan, hingga pencemaran sungai,
Inilah salah satu bentuk kearifan lingkungan yang telah diwariskan oleh karuhun Sunda jauh sebelum istilah "pelestarian lingkungan" atau "pembangunan berkelanjutan" dikenal seperti sekarang.




