SUKABUMIUPDATE.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan hingga menyentuh level Rp17.600 pada Jumat (15/5/2026). Angka tersebut menjadi salah satu catatan tertinggi sepanjang sejarah pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Situasi ini mengingatkan pada krisis moneter 1997–1998, salah satu periode paling kelam dalam sejarah ekonomi Indonesia. Pada masa itu, nilai tukar rupiah sempat anjlok hingga berada di kisaran Rp16.800 per dolar AS dan mengguncang perekonomian nasional.
Di tengah kondisi tersebut, kepemimpinan nasional beralih dari Presiden Soeharto kepada B.J. Habibie. Saat itu, banyak pihak meragukan kemampuan Habibie dalam menangani krisis ekonomi karena ia lebih dikenal sebagai teknokrat di bidang pesawat terbang dibanding ekonom yang berpengalaman di sektor keuangan.
Baca Juga: Api Muncul dari Atap Ruang Konveksi di Nagrak Selatan, Kebakaran Diduga Korsleting Listrik
Namun di luar dugaan, Habibie mampu memulihkan kepercayaan pasar dan menstabilkan nilai rupiah dalam waktu relatif singkat. Di balik keberhasilan tersebut, ada pengorbanan besar yang harus diambil, yakni menghentikan pengembangan pesawat N-250.
Pesawat N-250 merupakan proyek ambisius karya anak bangsa yang dikembangkan oleh Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), yang kini dikenal sebagai PT Dirgantara Indonesia. Proyek itu menjadi simbol mimpi Indonesia untuk mandiri dalam industri penerbangan dan teknologi tinggi.
Akan tetapi, krisis ekonomi memaksa pemerintah melakukan penghematan besar-besaran. Indonesia saat itu juga berada dalam pengawasan program bantuan International Monetary Fund (IMF), yang mendorong penghentian berbagai proyek strategis berbiaya tinggi, termasuk pengembangan N-250.
Baca Juga: Perjuangan di Jalan Rusak, Cerita Ambulans Desa di Sukabumi Evakuasi Ibu Melahirkan
Di sisi lain, Habibie fokus melakukan penyelamatan ekonomi melalui sejumlah kebijakan penting. Salah satunya adalah restrukturisasi perbankan dengan menggabungkan beberapa bank milik pemerintah salah satunya menjadi Bank Mandiri. Ia juga mendorong independensi Bank Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999.
Selain itu, Habibie menerapkan kebijakan pengetatan moneter melalui penerbitan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan suku bunga tinggi. Langkah tersebut dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan sekaligus mengurangi jumlah uang yang beredar.
Pemerintah juga tetap mempertahankan subsidi listrik dan bahan bakar minyak (BBM) agar harga kebutuhan pokok tetap stabil di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Kebijakan ini dinilai penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan meredam gejolak sosial.
Baca Juga: Meninggal di Gunung Rinjani, Pendaki Asal Sukabumi Dimakamkan di Kampung Halaman
Meski sempat menuai kontroversi, termasuk karena pernyataannya yang meminta masyarakat berhemat, berbagai kebijakan tersebut perlahan berhasil mengembalikan kepercayaan investor terhadap Indonesia.
Hasilnya, nilai tukar rupiah yang sebelumnya terpuruk mulai menguat hingga berada di kisaran Rp6.550 per dolar AS. Keberhasilan itu membuat masa pemerintahan singkat B.J. Habibie dikenang sebagai salah satu periode penting dalam pemulihan ekonomi Indonesia pascakrisis 1998.
Keputusan menghentikan proyek N-250 pun dianggap sebagai pengorbanan besar Habibie demi memprioritaskan penyelamatan ekonomi nasional. Meski menyakitkan, langkah tersebut menjadi bukti bahwa di tengah krisis, Habibie memilih menyelamatkan stabilitas negara dibanding mempertahankan mimpi besar industri dirgantara Indonesia.
Baca Juga: Terjatuh ke Septic Tank, Warga Jampangtengah Meninggal Diduga Akibat Luka Infeksi Berat
Mantan Presiden Indonesia, B. J. Habibie, pernah menjelaskan alasan mengapa proyek pesawat N-250 tidak dilanjutkan, meskipun dirinya sempat menjabat sebagai presiden.
Menurut Habibie, keputusan tersebut diambil karena Indonesia saat itu sedang menghadapi krisis moneter 1997–1998 yang sangat berat. Kondisi ekonomi yang memburuk membuat pemerintah harus lebih memprioritaskan pemulihan negara dan kesejahteraan rakyat.
Selain itu, penghentian proyek N-250 juga berkaitan dengan kerja sama Indonesia dengan IMF, yang saat itu turut memengaruhi berbagai kebijakan penting, termasuk proyek pengembangan pesawat nasional.
Habibie menegaskan bahwa di tengah situasi sulit tersebut, kepentingan rakyat harus lebih diutamakan, meskipun keputusan menghentikan proyek N-250 sangat berat karena pesawat itu merupakan salah satu proyek kebanggaan Indonesia.
Hingga kini, kisah N-250 tetap dikenang sebagai simbol mimpi besar bangsa yang sempat tertunda akibat badai krisis ekonomi.
Sumber: Berbagai Sumber





