Thailand Akan Tanggulangi Pemberitaan Media Barat Sepeninggal Raja

[object Object]
Jumat 21 Okt 2016, 01:39 WIB
Thailand Akan Tanggulangi Pemberitaan Media Barat Sepeninggal Raja

SUKABUMIUPDATE.COM - Thailand, Kamis, mengatakan akan mengabarkan ke seluruh dunia tentang pergantian takhta kerajaan setelah pemberitaan "salah" oleh media asing menciptakan kesalahpahaman dan menyakiti perasaan rakyat, yang berduka atas wafatnya Raja Bhumibol Adulyadej.

Kepergian Raja Bhumibol pekan lalu, setelah ia memimpin Thailand selama tujuh dekade, membuat rakyat negara itu berduka cita dan semakin sensitif terhadap masalah menyangkut kerajaan.

Pemerintah telah mengatakan bahwa Putra Mahkota, Pangeran Maha Vajiralongkorn, akan segera menggantikan ayahnya setelah ia selesai menjalani masa berkabung yang kurun waktunya belum ditentukan.

Penobatan putra mahkota sebagai raja akan dilakukan setelah jasad Raja Bhumibol dikremasi setelah periode berkabung selama satu tahun.

Untuk sementara, presiden Dewan Penasihat Prem Tinsulanonda (96 tahun) telah ditetapkan sebagai pemimpin pada masa peralihan.

Proses yang lambat dalam penobatan Pangeran Vajiralongkorn menimbulkan spekulasi di kalangan cendekiawan dan pengambat Thailand bahwa pergantian kekuasaan kemungkinan tidak akan selancar yang sebelumnya dinyatakan pemerintah.

Sejak Raja Bhumibol wafat, Vajiralongkorn belum memberikan pernyataan apa pun secara terbuka. Namun, sang pangeran setiap hari datang memberi penghormatan di Istana Agung di Bangkok, tempat jasad Raja disemayamkan.

Kementerian Luar Negeri tidak menyebut laporan atau pun nama-nama media secara khusus namun mengatakan pemberitaan mereka telah menimbulkan kesalahpahaman. Dan karena itu, kata Kemlu, pihaknya akan berupaya agar "tidak ada lagi pemberitaan salah".

"Kami telah memerintahkan para duta besar, konsulat dan perwakilan kami di seluruh dunia untuk memberikan informasi kepada lembaga-lembaga negara terkait serta pemerintah soal pergantian kepemimpinan berdasarkan undang-undang dasar, hukum kerajaan dan tradisi," kata Kemlu Thailand.

Di Thailand, penghinaan kepada kerajaan, pemimpin sementara atau pewarisnya, dianggap sebagai suatu kejahatan, yang dalam Bahasa Prancis disebut "lese-majeste". Kejahatan tersebut bisa dikenai hukuman penjara hingga 15 tahun untuk setiap penghinaan.

Raja Bhumibol, yang merupakan raja di dunia yang paling lama memimpin, dihormati sebagai sosok kebapakan dan simbol kesatuan negara, yang terpecah karena krisis politik selama beberapa tahun ini.

Krisis paling baru terjadi karena konflik antara pemerintahan pimmpinan militer dengan pasukan politik populis. Banyak kalangan di masyarakat Thailand mengkhawatirkan nasa depan negaranya tanpa keberadaan Raja Bhumibol.

Warga-warga di seluruh negeri mengenakan pakaian hitam dan banyak di antaranya yang berbondong-bondong ke Istana Agung yang memberikan penghormatan bagi mendiang raja.

Kemarahan Juru bicara pemerintah, Weerachon Sukondhapatipak, meminta media Barat menghentikan spekulasi "karena segalanya sudah cukup jelas".

"Tolong jangan berimajinasi dalam membuat laporan-laporan, tanpa memikirkan (dampaknya, red)," katanya kepada Reuters.

Tidak seperti ayahnya, Pangeran Vajiralongkorn tidak terlalu dipuja-puja.

Pangeran telah menikah dan bercerai tiga kali serta menghabiskan sebagian besar hidupnya di luar negeri, sering kali di Jerman.

Kendati pada 1972 Raja telah merancang putra satu-satunya sebagai putra mahkota, tidak lama kemudian ia juga memunculkan kemungkinan bahwa seorang putri bisa menjadi raja.

Junta Thailand telah meningkatkan penuntutan dalam kasus-kasus lese-majeste sejak Raja wafat. Sudah 12 kasus penghinaan yang diselidiki kepolisian.

Beberapa warga yang berduka menyerang orang-orang yang mereka anggap tidak hormat. Namun, Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha meminta masyarakat agar tidak main hakim sendiri.

Kendati negeri dalam keadaan berduka, pusat-pusat perbelanjaan, pasar, bioskop dan bahkan sejumlah bar, tetap buka.

Pemerintah mengatakan pariwisata tidak akan terdampak dan target-target industri juga tidak berubah.

"Kami yakin bahwa kami akan tetap mencapai target mendatangkan 32 juta wisatawan luar negeri ke sini," kata Wakil Perdana Menteri Tanasak Patimapragorn, kepada para wartawan.

Data Departemen Pariwisata menunjukkan bahwa kedatangan warga asing di lima bandara utama Thailand turun sebesar 2,59 persen pada pekan setelah Raja wafat, dibandingkan pekan sebelumnya.

Berita Terkini