BJ Habibie Gapunya Ijazah Sarjana kata Politisi PSI, Benarkah? Ini Riwayat Pendidikannya

BJ Habibie Gapunya Ijazah Sarjana kata Politisi PSI, Benarkah? Ini Riwayat Pendidikannya

BJ Habibie. (Sumber : Instagram/@summareconbandung).

SUKABUMIUPDATE.com – Pernyataan politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Sigit Widodo mengenai riwayat pendidikan Presiden ke-3 Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf (B.J.) Habibie, menjadi sorotan publik di tengah perdebatan mengenai ijazah dan latar belakang pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Melalui akun X miliknya, politikus PSI tersebut menyebut Habibie tidak memiliki ijazah sarjana. Pernyataan itu disampaikan untuk menanggapi kritik terhadap Gibran yang berkaitan dengan dokumen pendidikannya.

Dalam unggahannya, ia menjelaskan bahwa Habibie sempat menempuh pendidikan di Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung, yang kini menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB), sebelum melanjutkan studi ke Jerman.

"Presiden ketiga Indonesia, B.J. Habibie, tidak memiliki ijazah sarjana," tulisnya dalam unggahan tersebut, pada 8 Oktober 2026.

Ia menyebut Habibie hanya menjalani perkuliahan selama enam bulan di Bandung sebelum melanjutkan pendidikan teknik penerbangan di Jerman.

Baca Juga: Mengenal Pasir Datar Galunggung, “Bromo-nya Tasikmalaya” di Kaki Gunung Galunggung

Di negara tersebut, Habibie memperoleh gelar Diplom-Ingenieur dari Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule (RWTH) Aachen pada 1960. Lima tahun kemudian, ia meraih gelar doktor di bidang teknik dari perguruan tinggi yang sama.

Profil dan Riwayat Pendidikan B.J. Habibie

Mengutip laman Perpunas RI, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Presiden ke-3 Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie, lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. 

Ia merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, putra pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo. Pada 12 Mei 1962, Habibie menikah dengan Hasri Ainun Habibie. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai dua orang putra, yakni Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie.

Habibie menghabiskan masa kecilnya bersama saudara-saudaranya di Parepare. Sejak usia muda, ia dikenal memiliki karakter tegas dan teguh memegang prinsip. Selain itu, ia juga memiliki kegemaran menunggang kuda.

Kehidupan Habibie berubah ketika ayahnya meninggal dunia akibat serangan jantung pada 3 September 1950. Tidak lama setelah peristiwa tersebut, Habibie pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan di Gouvernements Middlebare School (sekarang SMP 5 Bandung) dan berhasil menamatkannya pada 1951 serta di Sekolah Menengah Atas Kristen (SMAK) Dago Bandung dan lulus pada 1954.

Baca Juga: Perkelahian Bersenjata Tajam di Cireunghas Sukabumi, Dua Pria Luka Berat

Selama bersekolah di tingkat menengah, prestasinya mulai menonjol, terutama dalam bidang ilmu eksakta. Kemampuan akademiknya membuat Habibie menjadi salah satu siswa yang disukai di sekolahnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan SMA di Bandung pada 1954, Habibie melanjutkan studi di Universitas Indonesia Bandung, yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun, ia hanya menjalani perkuliahan sekitar satu tahun sebelum berangkat ke Jerman untuk meneruskan pendidikan teknik.

Apakah Habibie Tidak Memiliki Gelar Sarjana?

Berdasarakan data dari ANRI, setelah tamat SMA, B.J Habibie melanjutkan studinya ke Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam Universitas Indonesia di Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung). Namun, di kampus ini, ia hanya kuliah selama kurang lebih enam bulan, karena pada 1955, Habibie mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kuliah di RheinischWestfälische Technische Hochschule Aachen (Universitas Aachen) di Jerman Barat.

Baca Juga: Kebakaran Gunung Jayanti Sukabumi, Api Diduga Merambat dari Lahan Garapan Warga

Habibie kemudian menghabiskan hampir 10 tahun untuk menyelesaikan studi S1 hingga S3-nya di Aachen (Diploma hingga Doktoral) Jurusan Konstruksi Pesawat (1956 - 1965). 

Pada akhirnya, Habibie berhasil mendapatkan gelar Doktor-Ingenieur dari Universitas Aachen pada 1965 dengan predikat summa cum laude.

Namun saat menempuh pendidikan doktornya, Habibie sempat menikahi Hasri Ainun Besari, teman sekolahnya di masa SMA, pada 1962 dan setelah itu memboyong Ainun ke Jerman untuk menemani studinya.

Usai lulus dari Aachen, tak butuh waktu lama bagi Habibie untuk mendapatkan pekerjaan. Hamburger Flugzeugbau (HFB), sebuah produsen pesawat terbang asal Hamburg, Jerman Barat, merekrutnya sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan yang bertugas untuk membuat riset dan pengembangan konstruksi pesawat terbang selama empat tahun. 

Baca Juga: Menteri Hukum Dorong Perlindungan Hak Cipta dan Keadilan Ekonomi bagi Karya Jurnalistik

Kemudian, Habibie pun melanjutkan karirnya sebagai Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada industri pesawat terbang komersial dan militer di Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB) yang bermarkas di Hamburg dan Munchen hingga 1973. 

Setelah menyelesaikan pendidikan, Habibie bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB), perusahaan industri penerbangan terkemuka di Jerman. Ia kemudian memenuhi panggilan Presiden Soeharto untuk kembali ke Indonesia dan berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta industri strategis nasional.

Di Indonesia, Habibie menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi sekaligus Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) selama sekitar dua dekade. Ia juga dipercaya memimpin sejumlah perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) di sektor industri strategis.

Karier politiknya berlanjut ketika Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) memilih Habibie sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia pada 1998. Pada 21 Mei 1998, setelah Soeharto mengundurkan diri, Habibie dilantik menjadi presiden berdasarkan Pasal 8 Undang-Undang Dasar 1945.

Masa kepresidenan Habibie berlangsung di tengah situasi politik yang penuh perubahan, termasuk persoalan Timor Timur. Dalam referendum pada 1999, mayoritas pemilih Timor Timur memilih berpisah dari Indonesia. Keputusan tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi dinamika politik nasional pada akhir masa pemerintahannya.

Baca Juga: Penyadap Gula Kelapa di Tegalbuleud Sukabumi Tewas Usai Jatuh dari Pohon Setinggi 15 Meter

Pidato pertanggungjawaban Habibie kemudian ditolak oleh MPR dalam Sidang Umum pada 1999. Setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden, ia kembali menjalani kehidupan sebagai warga negara biasa dan kemudian lebih banyak menghabiskan waktu di Jerman.

B.J. Habibie kerap dikaitkan dengan kabar yang menyebutkan bahwa dirinya memiliki skor IQ mencapai 200. Angka tersebut bahkan disebut-sebut melampaui perkiraan skor IQ Albert Einstein yang berada di kisaran 160–190.

Namun, klaim mengenai skor IQ Habibie tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya. Hingga kini, tidak ditemukan catatan atau bukti tepercaya yang mengonfirmasi bahwa Habibie memperoleh skor IQ 200, termasuk bukti bahwa ia pernah menjalani tes IQ dengan hasil tersebut.

Meski demikian, kecerdasan Habibie tercermin dari perjalanan pendidikan dan kariernya. Prestasi akademik, keberhasilannya meraih gelar doktor di Jerman, serta kontribusinya dalam pengembangan teknologi penerbangan menunjukkan kapasitas intelektual dan keahliannya yang luar biasa.

Perjalanan hidup Habibie mencerminkan kiprah panjang di bidang pendidikan, teknologi, industri strategis, dan pemerintahan. Latar belakang akademiknya di Jerman serta kontribusinya terhadap pengembangan teknologi penerbangan menjadikannya salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia.

 

Berita Terkini