Wanita-wanita Mata Hati Sukabumi

Senin 14 Nov 2016, 23:25 WIB
Wanita-wanita Mata Hati Sukabumi

SUKABUMIUPDATE.COM - Komunitas kini tumbuh di mana-mana, yang lahir dari kesamaan latar belakang sosial sampai ekonomi, tumbuh bak jamur di musim hujan. Komunitas yang mengarah kepada asosiasi sukarela ini, berlandaskan kepentingan umum, di mana setiap anggota mengeluarkan cost dalam berperan secara sukarela (Richard T. Schaefer; 2003).

Mata Hati Civil Society merupakan komunitas yang terbentuk kurang dari dua tahun silam, tepatnya 2 Februari 2015. Nama Mata Hati, bermakna "masayarakat pemerhati". Dari perhatian tersebut, kemudian muncul kajian dan disuksi tentang berbagai persoalan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Kini, komunitas yang dihuni hampir 80 persen kaum Hawa ini, anggotanya sudah tersebar di wilayah Kota dan Kabupaten Sukabumi. "Saat ini, Mata Hati sedang bermetamorposa dari sekadar kongkow, menjadi lebih memberi manfaat bagi sesama," ungkap sang ketua Yana Novia (45) kepada sukabumiupdate.com di kediamannya di Karang Tengah, Kecamatan Cibadak.

Namun, Yana mengingatkan, aktivitas komunitas jangan sampai mengabaikan tugas pokok sebagai ibu rumah tangga, karena seorang ibu memiliki tanggung jawab utama dalam mendidik anak dan menjaga keluarga.

“Suami mereka juga harus tahu, ada kegiatan apa dan di mana. Tapi, sejauh ini, alhamdulillah sambutan suami teman-teman cukup baik, bahkan para suami memberikan support luar biasa,” terang Yana.

Mata Hati juga menjadi semacam wadah yang mengakomodir harapan anggota dalam mengaktualisasikan diri, mengedepankan persaudaraan dan kebersamaan, menjaga silaturahim, serta membuka peluang usaha.

“Kami ingin di masa yang akan datang lebih concern terhadap dunia pendidikan dan lingkungan. Namun kami tetap melepaskan diri dari politik praktis. Biar hal itu menjadi urusan masing-masing anggota,” pungkas Yana.

Hal senada dikemukakan Sekretaris Mata Hati Nia Sri Kaniasari, awal komunitas tersebut berdiri, hanya untuk fun-fun saja, bersosialisasi dengan meninggalkan rutinitas sementara. "Maklum, kan ibu-ibu itu tugasnya bejibun. Tapi, sekarang kami berpikir bagaimana kebersamaan ini punya arti buat orang banyak,” terang ibu dari lima anak itu.

Aktivitas Mata Hati pun, kini tak hanya sebatas kongkow anggotanya yang terdiri dari lintas profesi, dari mulai karyawan bank, wiraswasta, pegawai negeri sipil (PNS), hingga ibu rumah tangga. Tetapi juga melakukan aksi sosial, seperti rencana mengadakan sunatan massal dalam waktu dekat.

Lain pengurus, lain pula pendapat anggota, “Kalau saya merasakan manfaatnya. Selain nambah saudara, peluang usaha juga besar, istilahnya mah, kalau punya produk rumahan kan bisa dijual ke sesama anggota yang jumlahnya ratusan,” begitu pengakuan Nurbaeti.

Salah seorang penggagas dan pendiri Mata Hati Deni Wahyudi (42) menambahkan, tidak ingin memberatkan pihak mana pun dalam pendanaan, termasuk saat melakukan aksi sosial. "Jadi, ulah ngariweuhkeun batur. Apapun kegiatannya, anggota seperti punya tombol otomatis, tidak perlu komando. Apalagi urusan makan."

Mata Hati Civil Society dideklarasikan pada 2 Februari 2015. Hadir saat deklarasi, Wakil Bupati Sukabumi Adjo Sardjono, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Heri Gunawan, lembaga swadaya masyarakat (LSM), serta masyarakat yang peduli terhadap persoalan di Kabupaten Sukabumi.

Editor :
Berita Terkini