SUKABUMIUPDATE.COM - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi akan melakukan kajian, untuk mencari tahu penyebab banjir dahsyat yang merendam sejumlah Kecamatan di Kecamatan Cidolog beberapa hari lalu. Selain curah hujan super tinggi, alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian baik rakyat dan swasta di sekitar areal perbukitan, diduga menyumbang dampak lingkungan bencana banjir.
Hal ini dikemukakan Sekretaris Daerah, Kabupaten Sukabumi Iyos Somantri kepada sejumlah wartawan usai rapat kordinasi tanggap bencana, Jumat (11/11) kemarin di pendopo kota. “Harus ada kajian untuk mencari penyebab banjir, tahun ini banjir di Cidolog dan sekitarnya sangat luar biasa. Kajian diperlukan untuk mencegah hal yang terulang ditahun tahun mendatang,†jelas Iyos.

Iyos menambahkan hutan heterogen yang saat ini menjadi homogeny, atau hanya ditanami satu jenis komoditas diduga ikut memberi andil pada berkurangnya daya serap tanah di perbukitan yang mengelilingi kecamatan Cidolog. “Kalau pandangan mata, perbukitan di sekitar Cidolog masih sangat hijau, namun memang saat ini hutan heterogennya beralih ke lahan tanaman industri, seperti pinus, pisang, dan lainnya,†pungkas Iyos.
Pantauan sukabumiupdate.com, areal perbukitan yang sekitar Cidolog memang masih hijau, namun ada juga lahan-lahan terbuka yang sepertinya disiapkan untuk tanaman industri. Lahan lahan ini dibuka oleh rakyat dan pengusaha untuk kepentingan perkebunan.
Diberitakan sebelumnya, Pemkab Sukabumi mencatat setidaknya ada delapan kecamatan di wilayah Pajampangan yang terdampak bencana banjir dan longsor, di antaranya Kecamatan Cidolog, Kalibunder, Cibitung, Tegalbuled, dan Sagaranten.
Namun Kecamatan Cidolog mengalami dampak paling parah dari luapan sungai sungai yang melintasi wilayah tersebut. Ada 1.029 rumah dilaporkan rusak, hingga menyebabkan ribuan warga harus mengungsi.
