SUKABUMIUPDATE.COM - Angklung Buhun. Mendengar namanya saja masyarakat khususnya anak muda Sunda saat ini mungkin banyak yang tidak tahu, padahal sudah ada sejak ratusan tahun silam. Angklung Buhun merupakan salah satu kesenian sunda yang hampir punah, hanya ditemui di masyarakat adat Baduy (Banten) dan sejumlah desa adat Kasepuhan, di Kabupaten Sukabumi.
Kesenian ini masih dimainkan di Kampung Adat Kasepuhan Sirnaresmi dan Ciptamulya di Kecamatan Cisolok serta Kasepuhan Ciptagelar di Kecamatan Cikakak. Prihatin dengan dengan kondisi ini, dan khawatir kesenian ini hilang dimakan zaman, Paguyuban Kipahare di Kecamatan Baros, Kota Sukabumi, berusaha membangkitkan kembali kesenian ini kepada masyarakat perkotaan.
Rutin setiap sore para pemuda ini berlatih memainkan angklung buhun di padepokan Baros. Menurut Sandi Wijaya ketua Paguyuban Kipaharee, meski tidak semirip pertunjukan aslinya namun mereka berusaha untuk tidak menghilangkan bentuk asli dari kesenian ini.

“Ada sedikit modifikasi dalam memainkan serta lagu lagu yang dibawakannya, namun tidak mengurangi bentuk asli kesenian ini,†jelas Sandi kepada sukabumiupdate.com, Selasa (1/11).
Sandi menjelaskan jika angklung buhun yang dimainkan ini adalah hasil pembelajarannya di Kasepuhan Sirnaresmi, bahkan Anklung Buhun yang dimiliki Kipahare berasal dari sana. Angklung Buhun adalah kesenian pusaka yang memiliki nilai sakral bagi masyarakat adat dan hanya dimainkan pada saat saat tertentu serta untuk mengiringi ritual.
Ritual yang berkenaan dengan siklus menanam padi seperti pada upacara ngaseuk (musim menanam padi) dan mipit (panen). Selain itu kesenian ini juga kerap dimainkan saat perayaan seren taun serta setiap malam bulan purnama.
Tentunya masih banyak lagi kesenian lainnya yang mulai dilupakan atau bahkan hampir punah, untuk itu Paguyuban Kipahare berusaha untuk menghidupkan kembali kesenian Sunda yang pernah ada.
“Kita welkam (welcome = selamat datang-red) ke siapa aja yang maui mencoba main angkung buhun, nggak perlu punya, main aja dulu. Mengenal, kemudian menyayangi dan melestarikan,†pungkasnya.
