SUKABUMIUPDATE.COM - Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) Ema Hilma Meilani, berpendapat penurunan yang terjadi pada populasi pertanian jangan terlalu dinilai dari kacamata negatif dan kekhawatiran.
"Jika jumlah petani turun itu malah bagus, ini artinya sebagian masyarakat sudah tidak menggantungkan hidupnya lagi disektor pertanian, tetapi bukan berarti meninggalkan profesinya sebagai petani," kata Ema.
Menurutnya, yang dimaksud perkataannya tersebut ketika populasi pekerja di sektor pertanian kemudian beralih ke nonpertanian, tapi lahannya tetap digunakan sebagai lahan pertanian.
Dari populasi rumah tangga pertanian adalah populasi dengan minimal salah satu anggotanya memiliki usaha di sektor pertanian mencakup subsektor tanaman pangan, hortikultura,
perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan.
Sebagai catatan angka 26,13 warga Indonesia yang bekerja di sektor pertanian yang tercatat di Sensus Pertanian (ST) 2013 sebagai rumah tangga pertanian belum mencakup rumah tangga pekerja bebas disektor pertanian atau buruh tani.
"Yang bahaya itu lahan produktif beralih fungsi dan yang jelas Indonesia tetap butuh regenerasi petani muda," tambah Ema.
Indonesia yang merupakan negara agraria, kondisi perekonomiannya sangat tergantung dengan sektor pertanian itu artinya sektor ini memiliki peranan penting dalam membangun perekonomian negara.
Ini diartikan sebagian besar masyarakat Indonesia bermata pencaharian dan menggantungkan hidupnya di sektor ini. Bahkan Mahasiswa Agribisnis UMMI memiliki slogan "No Farmer, No Food" dalam menyuarakan pentingnya peran petani di Indonesia.
Tetapi, berdasarkan data statistik yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada sensus ST 2013, jumlah populasi rumah tangga usaha pertanian mengalami penurunan kurang lebih
sebanyak 5,04 juta petani dibandingkan sensus pertanian di 2003 lalu. (*)
Â
