Tak Tersentuh Rutilahu, Warga Kalapanunggal Sukabumi Hidup di Rumah Nyaris Ambruk

Sukabumiupdate.com
Minggu 18 Jan 2026, 12:57 WIB
Tak Tersentuh Rutilahu, Warga Kalapanunggal Sukabumi Hidup di Rumah Nyaris Ambruk

Rumah Ningsih yang hampir ambruk di Kampung Bojongmenteng, Rt 29/07, Desa Palasarigirang, Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi. (Sumber: Istimewa)

SUKABUMIUPDATE.com - Tak tersentuh program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), rumah milik Ningsih (56 tahun) yang berlokasi di Kampung Bojongmenteng, Rt 29/07, Desa Palasarigirang, Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi nyaris ambruk dan membahayakan.

Hal itu disampaikan oleh RRI (21 tahun). Menurutnya, hampir tiga periode Kepala Desa (Kades), Ningsih bersama keluarganya terpaksa menempati rumah dengan kondisi tidak layak, atap bocor bahkan nyaris ambruk dan membahayakan keluarga Ningsih.

“Setahu saya sudah tiga periode kades, rumah bu Ningsih sudah seperti itu (tidak layak), kasihan, apalagi kalau hujan pasti banyak yang bocor,” ujar RRI kepada sukabumiupdate.com pada Minggu (18/1/2026).

Adapun terkait bantuan perbaikan, berdasarkan informasi yang diterimanya, RRI menyampaikan bahwa pihak Desa dikabarkan telah memberikan bantuan uang Rp 10 juta yang bersumber dari bonus produksi PT Gunung Salak, namun demikian bantuan diberikan dalam bentuk barang.

Baca Juga: Sempat Menelan Tiga Kali Kekalahan, Al Nassr Akhirnya Raih Kemenangan

“Kalo dari info yang punya rumah, adanya juga cuman bantuan dari desa 10 juta dipotong pajak sisa 8,6 juta, itupun berupa barang material, itu pun belum diambil dari toko matrial, karena bingung untuk ngebangunnya, itu bukan dari dana desa melainkan bonus dari produksi,” ungkapnya.

Sementara itu, Muhammad Paridudin, anak dari Ningsih menyampaikan untuk program Rutilahu sudah diajukan, namun untuk saat ini keluarganya baru mendapatkan bantuan yang bersumber dari bonus produksi PT Gunung Salak.

“Rutilahu itu sudah diajukan, cuman sekarang dapetnya dari bonus produksi PT Gunung Salak, nah itu ada uang Rp 10 juta dipotong pajak, nah uangnya itu sudah di toko material, jadi bukan nggak diambil tapi kan ini rumah bukan harus direnovasi tapi harus bikin baru soalnya kondisinya sudah lapuk semua,” tutur dia.

“Selain itu kan yang jadi kebingungan kami keluarga di sini itu kalau dalam bentuk barang kan ngebangunnya juga harus pake tukang, dan itu harus dibayar, sedangkan kami nggak punya uang buat bayar tukangnya,” tambah dia.

Oleh sebab itu, keluarga Ningsih berharap agar bantuan yang diberikan berupa pembangunan unit rumah baru bukan renovasi, mengingat keluarganya memiliki keterbatasan ekonomi.

Berita Terkait
Berita Terkini