SUKABUMIUPDATE.com - Pepen Supendi, pemuda asal Kampung Situsaeur RT 04/11, Kelurahan/Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, puluhan tahun hidup dengan cara ngesot (menggusur badan). Pemuda 33 tahun ini mengalami kelumpuhan sejak lahir, kaki tidak berfungsi sehingga harus bertumpu pada kedua tangannya untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Puluhan tahun Pepen menggantungkan hidup dari sang kakak Asep Mulyana (37) yang saat ini mulai sakit-sakitan. Kakak beradik ini memang kurang beruntung, kedua orangtuanya meninggal dan kini mereka hidup dalam kondisi serba kekurangan.
“Sejak bapak dan ibunyanya, Komarudin dan Nyai meninggal, mereka tinggal di gubuk milik tetangganya. Selain lumpuh, Pepen juga kalau ngomong kurang jelas. Kakaknya Asep sejak beberapa bulan ini sering sakit-sakitan,†jelas Lilis Yuningsih (48) tetangga Asep dan Pepen di Kampung Situsauer kepada sukabumiupdate.com, Kamis (16/3).
BACA JUGA:
Bagi Bocah Lumpuh Cibadak Kabupaten Sukabumi Ini, Sekolah Adalah Mustahil
Pilu, Bocah Lumpuh asal Cibadak Kabupaten Sukabumi yang Tidak Berani Bermimpi
Miris, Kakak Adik Warga Sukasirna Cibadak Kabupaten Sukabumi Dibiarkan Lumpuh
Kakak beradik ini memang hidup dari belas kasihan warga sekitar. Sejak Asep sang kakak sakit, nyaris tidak ada lagi penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Pepen.
Pepen dan Asep tidak pernah mengeyam bangku sekolah, sehingga keduanya buta hurup tak bisa membaca. Kondisi ini membuat hidup kedua kakak beradik ini makin sulit.
“Pepen pernah dikasih kursi roda dari warga sekitar yang sudah tidak terpakai. Dulu masih sering dipakai, sekarang sudah jarang keluar rumah, tetangga sering mengecek takut keduanya nggak makan,†lanjut Lilis.
Lilis berharap ada perhartian khusus dari pemerintah untuk Pepen dan kakaknya. “Kami tetangga khawatir, jika sakit mereka hanya minum obat warung. Inginnya ada yang memberi perhatian khusus. Walaupun tetangga, kami juga punya urusan, khawatir nggak terurus,†pungkas Lilis.
