Una Pemulung di Mangkalaya Kabupaten Sukabumi: Perjuangan Masih Panjang

[object Object]
Selasa 28 Feb 2017, 23:30 WIB
Una Pemulung di Mangkalaya Kabupaten Sukabumi: Perjuangan Masih Panjang

SUKABUMIUPDATE.com - Demi menafkahi istri, dan berbagai kebahagian dengan cucu, seorang lelaki tua di Mangkalaya, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, Jawa barat, melakoni pekerjaan berat yang terkadang menimbulkan risiko, yakni mengumpulkan barang bekas.

Dia adalah Una (61). warga Kampung Cijeruk RT03/03, Desa Mangkalaya, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi yang juga menggantikan peran anak-anaknya untuk memenuhi kebutuhan tiga orang cucu.

Tiga anaknya kini sudah beranjak dewsa. Satu anak perempuannya bekerja di perusahaan garmen, sedangkan dua anaknya bekerja serabutan mencari rumput dan terkadang menjadi kuli bangunan. “Ketiga anak itu, anak angkat. Mereka hadir waktu anak pertama saya meninggal di usia empat tahun,” kisah Una.

Seminggu setelah anak semata wayangnya meninggal, pasangan itu mendapatkan anugerah berupa anak dari tetangganya. “Tetangga saya tidak mampu membiayai. Mereka menyerahkan anak lelaki yang kini paling besar ke rumah saya. Istri saya sangat senang mendapatkan anak. Saat ini usianya sudah 45 tahun. Padahal saat itu kehidupan saya pun sangat serba kekurangan. Tapi saya yakin anak adalah pintu titipan rezeki. Alhamdulilah mereka masih sempat mengecap bangku sekolah walau hanya tingkat sekolah dasar,” papar dia.

Anak kedua yang juga laki-laki, kata dia, ia dapatkan dari orang yang menumpang tinggal di rumahnya. “Setelah anak yang kini berusia 40 tahun ini lahir, kedua orang tuanya pergi entah kemana. Sedangkan, anak ketiga, perempuan yang kini berusia 35, anak tetangga yang dititipkan orang tuanya karena tidak mampu lagi mengurus anak,” tambahnya.

Ketiga anak itu baru mengetahui orang tua kandung nya setelah berusia dewasa. “Kala itu, para orang tua mereka hendak mengajak anak-anak itu ikut orang tua kandungnya. Tetapi mereka malah memilih ikut saya yang hidup serba kekurangan,” ungkap Una.

Berbekal sebuah karung plastik dan gancu bergagang bambu, Asep memulai aktivitas dini hari pukul 04.00 WIB hingga 17.00 WIB. Profesi ini telah dijalaninya selama tujuh tahun. Lelaki yang tak pernah mengecap pendidikan ini, harus berhati-hati saat memilihah barang rongsokan, agar tidak mendapat cemoohan dari pemilik tong sampah.

“Profesi ini rentan di tuduh sebagai pengambil barang orang lain. padahal tidak semua pemulung melakukan perbuatan negative dengan mengambil benda-benda yang masih layak pakai,” tutur dia memulai pembicaraan dengan sukabumiupdate.com, Selasa (28/2).

Dari hasil mengumpulkan barang rongsokan, ia menghasilkan uang Rp550 ribu per bulan. Sebagian ditabung untuk biaya sekolah cucu-cucunya, sisanya untuk kebutuhan sehari-hari. Uang sebesar itu ia dapat dengan memanggul tiga hingga empat karung berisi barang rongsokan. “Jual barang rongsokannya sebulan sekali. Dikumpulkan dulu. Setelah banyak baru diabwa ke pengepul,” terangnya.

Tak jarang, kakinya sering terluka terantuk batu atau tertusuk pecahan kaca saat mencari barang rongsokan. Rasa pedih dan nyeri sudah tak ia rasakan. Baginya, melihat seonggok plastik atau kertas di dalam tong sampah, merupakan rezeki tak terhingga yang disediakan Sang Khalik.

Namun, ia mengaku perjuangannya masih panjang dan tidak akan berhenti bekerja sebagai pemulung sebelum kehiduan anak cucunya beranjak dari kemiskinan. “Saya ingin memberikan modal kepada anak dan cucu saya, agar mereka bisa berwiraswasta. Mereka jangan sampai mengikuti jejak saya,” lirih lelaki tua itu yang tinggal dengan tiga anak dan tiga cucu serta istrinya itu di sebuah rumah semi permanen berukuran 5x7 meter.

Hidup dengan kondisi ekonomi lemah dirasakannya sebagai sebuah tantangan hidup. Semua kenyataan yang ia lalui, tak membuat minder dan menjauh dari pergaulan sosial. “Walau saya hanya duduk tak  ikut nimbrung dalam setiap obrolan, saya selalu berusaha bersua-sapa dengan tetangga,” imbuh Asep.

Ia mengatakan, kemiskinan bukan alasan ia minder dalam bergaul, bukan pula harus didramatisir agar mendapat perhatian dari tetangga maupun pemerintah. “Sepanjang tenaga masih ada, nadi masih berdenyut, kemiskinan ini hanya nasib yang bisa diubah. banyak pemulung menjadi kaya raya,,” tuturnya.

Berita Terkini