Kumpulan Kata Bijak Sunda Buhun Untuk Ngaji Diri Lengkap dengan Arti dan Maknanya

Sukabumiupdate.com
Jumat 27 Mar 2026, 16:00 WIB
Kumpulan Kata Bijak Sunda Buhun Untuk Ngaji Diri Lengkap dengan Arti dan Maknanya

Ilustrasi - Kata-kata bijak nenek moyang orang Sunda jadi warisan yang sangat berharga karena bisa dijadikan modal dalam menjalani kehidupan (Sumber : AI/ChatGPT)

SUKABUMIUPDATE.com - Nenek moyang masyarakat Sunda banyak memberikan warisan berupa kata-kata bijak yang berisi petuah untuk generasi selanjutnya agar menjadi pribadi yang baik. Kata-kata bijak tersebut jadi warisan yang sangat berharga karena bisa dijadikan modal dalam menjalani kehidupan.

Umumnya pesan yang dikandung tentang bagaimana seharusnya kita bersikap, memperlakukan orang lain, bersikap saat berusaha, menerima kegagalan, dan masih banyak lagi.

Salah satu kata-kata Sunda buhun yang memiliki makna mendalam adalah "Ngaji Diri" yang artinya introspeksi diri atau mengenal diri. Berikut ini kata-kata Sunda buhun ngaji diri sebagai bahan pembelajaran hidup lengkap dengan arti dan maknanya.

1. "Nandur kasambara janten aya kaasupan" (Menyulut api di dalam diri akan menemukan kebenaran).

Maknanya: Pentingnya mengendalikan emosi diri (menyulut api dalam diri) untuk menemukan kebenaran atau kesadaran sejati. Ini adalah ajakan untuk melakukan introspeksi diri (ngaji diri) agar tidak dikuasai hawa nafsu dan menemukan kebijaksanaan.

2. "Mimiti ti diri sendiri, barikeun tina hayang di hareupeun" (Dimulai dari diri sendiri, sebelum menyalahkan orang lain).

Maknanya: Ajakan untuk melakukan introspeksi (ngaji diri) dan perbaikan diri terlebih dahulu sebelum mengatur atau menuntut orang lain. Ini menekankan kerendahan hati untuk tidak sombong atau merasa paling benar, melainkan fokus memperbaiki kekurangan diri sendiri.

3. "Nenten sabaraha nu dijieun, tapi sabaraha nu dipikiran" (Bukanlah jumlah yang dihasilkan, tapi bagaimana cara berpikir)

Maknanya: Bukan seberapa banyak yang dibuat/dikerjakan, tapi seberapa banyak yang dipikirkan) bermakna bahwa kualitas, kedalaman pemikiran, dan perencanaan matang dalam hidup lebih utama daripada sekadar kuantitas hasil kerja yang banyak namun asal-asalan. Ini adalah bentuk kearifan lokal tentang pentingnya introspeksi diri (ngaji diri) dan kebijaksanaan dalam bertindak.

4. "Ngabogaan diri pikeun ngaropéa ka diri" (Menghormati diri untuk dihormati orang lain)

Maknanya: Menghormati atau menghargai diri sendiri agar dihormati oleh orang lain. Pepatah ini mengajarkan pentingnya menjaga martabat, perilaku, dan pengembangan kualitas diri sebelum menuntut penghargaan dari lingkungan sekitar.

5. "Balik carita ka diri sendiri, ku kituna mah sateuacan" (Kembalilah pada diri sendiri, di situlah kebenaran)

Maknanya: Introspeksi diri atau merenung sebelum bertindak/menilai orang lain. Ungkapan ini menekankan pentingnya memperbaiki diri sendiri atau memahami situasi diri terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu.

6. "Teu aya paanganna janten aya kaliruanna" (Tidak ada penolong, kecuali diri sendiri)

Maknanya: Ketika tidak ada pembatas, aturan, atau kejelasan (paangan), maka akan timbul kesalahan, kekacauan, atau kesalahpahaman (kaliruan). Ini adalah nasihat untuk pentingnya batasan dan kehati-hatian dalam bertindak agar tidak menimbulkan masalah.

7. "Teu kabagi keur sacikut, teu kabagi keur sajunjungan" (Tidak berbagi untuk sombong, tapi untuk membangun)

Maknanya: Tentang prinsip berbagi yang tulus, bukan untuk pamer (sombong), melainkan murni untuk membantu atau membangun. Istilah ini menekankan bahwa memberi bukanlah ajang kesombongan, melainkan kewajiban sosial yang didasari ketulusan.

8. "Ngeunaan prestasi, tapi kudu tetep hangat ku kahirupan" (Tentang prestasi, tapi tetap rendah hati dalam kehidupan)

Maknanya: Bahwa mengejar kesuksesan atau prestasi adalah hal baik, namun tidak boleh membuat kita menjadi dingin, kaku, atau melupakan kemanusiaan dan kehangatan hubungan sosial. Kita harus tetap membumi, memelihara silaturahmi, dan peduli sesama di tengah pencapaian.

9. "Andog ka diri, ngan aya ka ngajanten" (Berani pada diri sendiri, niscaya akan ada jalan)

Maknanya: Segala sesuatu yang terjadi berawal dan kembali pada diri sendiri, di mana kesadaran batin adalah kunci mewujudkan kebenaran sejati.

10. "Hirup teh gae, baé kasarian" (Hidup itu sederhana, yang penting bersyukur)

Maknanya: Tentang kesederhanaan, yaitu bahwa hidup itu tidak perlu rumit, yang terpenting adalah bersyukur, menerima keadaan, dan menghargai apa yang dimiliki. Peribahasa ini mengajarkan untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal yang tidak penting agar hidup lebih tenang.

Editor :
Berita Terkait
Berita Terkini