SUKABUMIUPDATE.com - Nasib kurang baik dialami Dadan Gunawan (28 tahun), pemuda asal Kampung Cisireum, Desa Gunung Bentang, Kecamatan Sagaranten, Kabupaten Sukabumi. Niat ingin memperbaiki ekonomi dengan bekerja ke luar negeri, Dadan justru diduga menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan kini telantar di Kamboja.
Dadan mengatakan kisahnya bermula pada awal 2025 ketika ia ditawari pekerjaan di sebuah restoran di Laos oleh seseorang yang dikenalnya di media sosial. Namun, janji manis tersebut ternyata hanya kedok belaka. "Awalnya dijanjikan kerja di restoran, tapi ternyata cuma kedok. Saya malah dibawa ke perusahaan judi online dan scamming," kata dia saat dihubungi sukabumiupdate.com pada Minggu (11/10/2026).
Tak berhenti di situ, penderitaan Dadan berlanjut ketika ia diduga dijual oleh perusahaan di Laos ke Kamboja pada Maret 2025. Selama bekerja di Kamboja dari Maret 2025 hingga Januari 2026, ia mengaku mengalami perlakuan tidak manusiawi. Sempat menolak dan melawan saat dipaksa bekerja di industri ilegal, Dadan dipecat dan dituntut membayar uang tebusan.
Baca Juga: Disnakertrans Sukabumi Ungkap Ciri Tawaran Kerja yang Bisa Mengarah ke TPPO
Ia bahkan mengaku sempat disekap oleh pihak perusahaan. "Saya sempat dikurung selama 25 hari di gudang. Dari gaji yang dijanjikan 600 dolar AS, saya hanya menerima sekitar 200 dolar AS karena dipotong berbagai denda dan kasbon," ujarnya yang hanya menerima gaji selama tiga kali.
Penderitaan Dadan memasuki babak baru pada Januari 2026, saat kantor tempatnya bekerja digerebek oleh otoritas setempat. Saat para bos kabur melarikan diri, Dadan bersama pekerja lainnya berhasil menyelamatkan diri menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).
Tetapi, karena tidak menerima gaji selama berbulan-bulan, pemuda yang belum berkeluarga ini sekarang sama sekali tidak memiliki uang untuk membeli tiket pulang ke Indonesia.
"Sekarang saya di penampungan Pochentong, kota Phnom Penh. Saya kesulitan pulang karena tidak ada biaya sama sekali, dan dari keluarga juga tidak ada yang bisa membantu," kata Dadan.
Saat ini, Dadan sangat berharap adanya perhatian dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi, pemerintah provinsi, maupun pemerintah pusat, agar dapat membantunya pulang kembali ke kampung halamannya.















