Asa Nelayan Ujunggenteng Kabupaten Sukabumi di Hari Nelayan

[object Object]
Jumat 05 Mei 2017, 10:16 WIB
Asa Nelayan Ujunggenteng Kabupaten Sukabumi di Hari Nelayan

SUKABUMIUPDATE.com - Konon, hidup sejahtera adalah pilihan, seseorang bisa saja menjadi seorang kaya harta jika ia memilihnya untuk hidup kaya. Begitu pun sebaliknya.

Bagi Engkos Kosasih (58), kemiskinan bukan pilihannya, bukan pula tidak mau sejahtera. Ia hanya merasa kemiskinan dan kesulitan hidup yang dialaminya saat ini, bisa tidak terjadi, andai saja tidak banyak aturan yang melarangnya menangkap ikan tertentu.

"Sebelum ada larangan menangkap benur lobster saja, saya dan ribuan nelayan lainnya, jauh dari sejahtera. Ditambah lagi sekarang, sudah banyak larangan, musim paceklik pula," ujarnya kepada sukabumiupdate.com, saat tengah memperbaiki lampu perahu, Jumat (5/5).

Lebih jauh, bapak enam anak warga Kampung Kalapacondong RT 05, Desa Ujunggenteng, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi itu menjelaskan, sebelum banyak aturan pembatasan menangkap ikan, sehari ia bisa membawa pulang Rp200 ribu. Namun saat ini, bisa mendapat Rp50 ribu saja sudah beruntung.

"Kalau lagi beruntung bisa dapat dua ekor yang beratnya delapan kilogram. Tapi lebih sering cuma dapat satu ekor," ujar Engkos lagi.

BACA JUGA:

Nelayan Ujunggenteng Kabupaten Sukabumi Dilarang Tangkap Benur, Ceraikan Istri Hingga Merasa Dibunuh Perlahan

Permen Larangan Tangkap Benur Lobster, Derita bagi Ribuan Nelayan Ujunggenteng Kabupaten Sukabumi

Sudah Empat Tahun Tangkapan Nelayan Tradisional Ujunggenteng Kabupaten Sukabumi Terus Merosot

Ditambahkannya, saat ini ikan Layur belum musim. Paling Tenggiri atau Cekeng. "Sekarang mah, bisa membawa uang lima puluh ribu saja sudah bagus, karena yang ada malah lebih sering tekor dan nombok," tambahnya.

Sementara, disinggung soal even tahunan Hari Nelayan yang akan dilangsungkan Sabtu (6/5) besok, dihadiri Ketua Dewan Pembina Gerakan Kebangkitan Nelayan dan Tani (Gerbang Tani) HA. Muhaimin Iskandar, Engkos seperti enggan berkomentar. "Senang aja," singkatnya. "Tapi hidup saya dan nelayan lain tetap aja sulit," imbuhnya.

Sedangkan ketika ditanya harapannya kepada pemerintah, melalui pria yang akrab dipanggil Cak Imin itu, Engkos memilih diam. Bahkan, hingga tiga kali pertanyaan yang sama diajukan, ia hanya tersenyum tanpa ekspresi sambil kembali memperbaiki lampu pada perahu Congkreng milik bosnya. Setelah ditanya untuk yang keempat kali, baru lah ia menjawabnya.

"Ubahlah hidup kami, nelayan. Ikan dan ukuran tertentu mungkin tidak boleh ditangkap, tapi beri kami solusi. Kebutuhan hidup itu setiap hari harus dipenuhi. Semoga aja bisa diperjuangkan suara nelayan ini. Karena kalau begini terus, mati kami," pungkasnya.

Berita Terkini