Ini Pesan Terakhir Ujang Nurjani, Bocah Warungkiara Kabupaten Sukabumi kepada Ibunya

[object Object]
Jumat 03 Feb 2017, 20:36 WIB
Ini Pesan Terakhir Ujang Nurjani, Bocah Warungkiara Kabupaten Sukabumi kepada Ibunya

SUKABUMIUPDATE.com - Ujang Nurjani (13), anak dari pasangan Udin (47) dan Eneng (45), warga Kampung Ciherang RT 02/06, Desa Girijaya, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi yang menderita busung lapar akhirnya meninggal dunia. Ujang tutup usia di Rumah Sakit (RS) Hasan Sadikin, Kota Bandung, pada Jumat (3/2), sekitar pukul 02.30 WIB dini hari.

Sebelumnya, Selasa (31/1), Ujang sudah mendapat perawatan intensif tim medis RS Sekarwangi, Kecamatan Cibadak. Saat itu, ia langsung mendapat infus untuk menormalkan kondisi tubuhnya yang lemah. Menurut Dokter Puskesmas Warungkiara, Ervina, Ujang didiagnosa mengalami thalassemia dan splenomegaly. Thalasemia merupakan perubahan sel darah merah yang tidak terbentuk sempurna.

“Akibatnya, terjadi pembengkakan pada usus dan juga perut. Sedangkan splenomegaly itu mengeras. Makanya perutnya membesar dan keras, busung lapar. Kondisi ini diperparah dengan kadar hemoglobin kurang dari tiga desigram. Ini berbahaya, harusnya sepuluh ke atas HB-nya. Ini sangat kurang,” jelas Ervina kepada sukabumiupdate.com.

Penjelasan tim medis tentu membuat orang tua Eneng dan Udin kalut, terlebih setelah Ujang divonis memasuki fase kronis. “Waktu itu kami disarankan berobat ke Bandung, tapi bingung biaya perawatannya. Setelah di Bandung, hayangna Ujang teh sembuh da tos dibawa ke Hasan Sadikin. Salila ieu teu mampu rek dibawa ka rumah sakit. Tapi takdir ti Allah tos ngagariskeun,” tutur Eneng.

Meninggalnya Ujang tentu di luar dugaan Eneng dan Udin, karena anaknya tersebut tengah mendapat perawatan tim medis rumah sakit.

BACA JUGA:

Pilu, Bocah Lumpuh asal Cibadak Kabupaten Sukabumi yang Tidak Berani Bermimpi

Innalillahi wa inna Ilaihi rajiun, Anak Busung Lapar Warungkiara Kabupaten Sukabumi Tutup Usia

Bocah Busung Lapar dari Warungkiara Kabupaten Sukabumi: Ingin Sekolah Lagi

Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Eneng sempat merasakan firasat berbeda. "Ada kejadian yang bagi saya itu agak aneh. Tapi saat itu saya tidak terpikir macam-macam," ujar Eneng yang didampingi suaminya.

Kejadian aneh itu terjadi saat Ujang masih dirawat di RS Sekarwangi.  Selama dirawat dua hari itu, Ujang merengek ke ibunya supaya segera dibawa ke RS Hasan Sadikin. "Dia kekeuh pengen ke Bandung. Saya juga heran, tidak biasanya seperti itu," imbuhnya.

Firasat tidak enak selanjutnya terjadi saat di RS Hasan Sadikin.  Saat itu, Ujang menolak dipasang selang oksigen. “Ujang ingin tidur seperti di rumah. Terus dia bilang, supaya saya jangan bersedih. Karena dia tidak akan lama di rumah sakit juga," tuturnya lebih jauh.

Kini, Eneng dan Udin mengaku ikhlas dengan kepergian Ujang. Mereka mengakui jika selama ini memang tidak mampu memberikan gizi dan pengobatan yang baik untuk Ujang dan kakaknya, karena kemiskinan yang menjeratnya.

"Insha Allah keluarga ikhlas. Haturnuhun ka sadayana nu tos ngilu sibuk. Ka pamerentah ge nuhun, da telat-telat oge tos merhatikeun."

Kepergian Ujang sangat memukul keluarga ini, karena tahun 2008 silam mereka juga kehilangan anak lainnya, kakak Ujang dengan penyakit yang kurang lebih sama, busung lapar. “Tos cukup, tong aya deui anak nu maot gara-gara penyakit ieu kalaparan,” harap Eneng sambil menyeka air matanya.

Berita Terkini