Kerbau Betina di Kabupaten Sukabumi Capai 3.975 Ekor, Tertinggi di Jawa Barat

Kerbau Betina di Kabupaten Sukabumi Capai 3.975 Ekor, Tertinggi di Jawa Barat

Kerbau yang sedang digembala di area perkebunan di Desa Pangumbahan Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi. (Sumber : Dok Penggembala).

SUKABUMIUPDATE.com - Dahulu kerbau menjadi salah satu sahabat penting bagi petani di Indonesia. Hewan ternak ini selama berabad-abad dimanfaatkan untuk membantu membajak sawah, sekaligus memiliki nilai ekonomi.

Namun, seiring perkembangan zaman dan penggunaan teknologi pertanian, kerbau semakin jarang terlihat membantu petani menggarap sawah. Keberadaannya pun menjadi salah satu hal yang menarik untuk ditelusuri, termasuk di Sukabumi.

Di Sukabumi tepatnya di Kawasan Suaka Margasatwa (SM) Cikepuh terdapat ratusan ekor kerbau (munding) yang berada di sana. Diperkirakan ada sekitar 1.000 ekor kerbau yang selama ini dilepasliarkan di dalam kawasan SM Cikepuh.

Namun, kini karena adanya El Nino yang menyebabkan kemarau panjang dan kekeringan yang meluas membuat vegetasi hutan SM Cikepuh tak lagi mampu mencukupi kebutuhan pakan kerbau disana.

Langkanya rumput dan dedaunan di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Cikepuh memaksa para peternak menggiring keluar ratusan ekor kerbau (munding) dari habitat alaminya di dalam hutan.

Baca Juga: Gerbang Tol Cisaat Cibolang Dibangun, Progres Tol Bocimi Seksi 3 Capai 85,148 Persen

Para penggembala kini memindahkan hewan ternaknya ke area perkebunan warga di perbatasan kampung dan hutan untuk memanfaatkan sisa-sisa sumber pakan yang masih tersedia.

Sementara itu berdasarkan data dari Open Data Jabar yang bersumber dari Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan, mengenai Jumlah Populasi Kerbau Berdasarkan Jenis Kelamin dan Kabupaten/Kota di Jawa Barat pada 2025, yang diperbarui pada 19 Oktober 2026, populasi kerbau di Kabupaten Sukabumi tercatat mencapai 6.646 ekor betina dan jantan. 

Jumlah tersebut menempatkan Kabupaten Sukabumi sebagai salah satu daerah dengan populasi kerbau terbanyak di Jawa Barat.

Dari jumlah tersebut, terdapat 3.975 ekor kerbau betina dan 2.671 ekor kerbau jantan. Menariknya, populasi kerbau betina di Kabupaten Sukabumi menjadi yang tertinggi dibandingkan kabupaten dan kota lainnya di Jawa Barat.

Sementara itu, untuk populasi kerbau jantan, Kabupaten Sukabumi menempati posisi kedua setelah Kabupaten Cianjur yang memiliki 3.180 ekor. Adapun Kabupaten Kuningan berada di posisi ketiga dengan 2.293 ekor kerbau jantan.

Baca Juga: Arti Paribasa Sunda Kudu Seubeuh Memeh Dahar, Kudu Nepi Memeh Indit, Apa Maknanya?

Kabupaten Sukabumi Unggul dalam Populasi Kerbau Betina

Jika melihat persebaran berdasarkan jenis kelamin, Kabupaten Sukabumi mencatatkan angka yang cukup menonjol. Populasi kerbau betina mencapai 3.975 ekor, disusul Kabupaten Bogor sebanyak 3.739 ekor dan Kabupaten Cianjur sebanyak 3.639 ekor.

Data tersebut menunjukkan bahwa Kabupaten Sukabumi masih memiliki populasi kerbau yang cukup besar dibandingkan daerah lainnya di Jawa Barat, terutama dari sisi jumlah kerbau betina.

Keberadaan kerbau betina juga menjadi bagian penting dalam keberlanjutan populasi ternak, meskipun angka tersebut belum dengan sendirinya menggambarkan tingkat kelahiran maupun perkembangan populasi kerbau di daerah tersebut.

Berikut adalah data jumlah kerbau di Jawa Barat berdasarkan jenis kelamin, data Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan 2025:

Jantan

  1. Kabupaten Cianjur: 3.180 ekor
  2. Kabupaten Sukabumi: 2.671 ekor
  3. Kabupaten Kuningan: 2.293 ekor
  4. Kabupaten Subang: 2.216 ekor
  5. Kabupaten Garut: 1.676 ekor
  6. Kabupaten Purwakarta: 1.384 ekor
  7. Kabupaten Bogor: 1.317 ekor
  8. Kabupaten Tasikmalaya: 831 ekor
  9. Kabupaten Bandung: 776 ekor
  10. Kabupaten Sumedang: 577 ekor
  11. Kabupaten Cirebon: 483 ekor
  12. Kota Tasikmalaya: 412 ekor
  13. Kabupaten Indramayu: 172 ekor
  14. Kabupaten Bandung Barat: 170 ekor
  15. Kabupaten Majalengka: 124 ekor
  16. Kabupaten Bekasi: 89 ekor
  17. Kabupaten Pangandaran: 84 ekor
  18. Kabupaten Ciamis: 71 ekor
  19. Kabupaten Karawang: 32 ekor
  20. Kota Bekasi: 18 ekor
  21. Kota Bogor: 17 ekor
  22. Kota Depok: 16 ekor
  23. Kota Bandung: 5 ekor
  24. Kota Sukabumi: 1 ekor
  25. Kota Banjar: 1 ekor
  26. Kota Cirebon: 0 ekor
  27. Kota Cimahi: 0 ekor

Baca Juga: Curug Agung Galunggung, Air Terjun Warna-warni yang Memesona pada Malam Hari

Betina: 

  1. Kabupaten Sukabumi: 3.975 ekor
  2. Kabupaten Bogor: 3.739 ekor
  3. Kabupaten Cianjur: 3.639 ekor
  4. Kabupaten Garut: 3.363 ekor
  5. Kabupaten Kuningan: 2.550 ekor
  6. Kabupaten Purwakarta: 1.745 ekor
  7. Kabupaten Sumedang: 1.301 ekor
  8. Kabupaten Tasikmalaya: 1.253 ekor
  9. Kabupaten Cirebon: 1.235 ekor
  10. Kabupaten Bandung: 700 ekor
  11. Kabupaten Subang: 624 ekor
  12. Kabupaten Indramayu: 344 ekor
  13. Kabupaten Bandung Barat: 318 ekor
  14. Kota Tasikmalaya: 259 ekor
  15. Kabupaten Majalengka: 170 ekor
  16. Kabupaten Pangandaran: 159 ekor
  17. Kabupaten Ciamis: 144 ekor
  18. Kabupaten Bekasi: 83 ekor
  19. Kabupaten Karawang: 74 ekor
  20. Kota Bogor: 30 ekor
  21. Kota Depok: 11 ekor
  22. Kota Banjar: 3 ekor
  23. Kota Bekasi: 1 ekor
  24. Kota Sukabumi: 0 ekor
  25. Kota Bandung: 0 ekor
  26. Kota Cirebon: 0 ekor
  27. Kota Cimahi: 0 ekor

Populasi Kerbau Menurun?

Dibandingkan dengan sapi, kerbau dinilai masih kurang mendapatkan perhatian. Guru Besar IPB University, Prof. Ronny Rachman Noor, menilai upaya pelestarian kerbau akan lebih efektif jika dilakukan melalui penguatan budaya dan tradisi masyarakat.

Menurut Prof. Ronny, salah satu faktor utama yang menyebabkan penurunan populasi kerbau adalah mekanisasi pertanian. 

Penggunaan traktor secara bertahap menggantikan peran kerbau sebagai tenaga untuk mengolah lahan pertanian. Selain itu, alih fungsi lahan akibat urbanisasi turut mengurangi area persawahan dan rawa yang menjadi habitat kerbau.

“Peternak merasa bahwa minat generasi muda untuk beternak kerbau cenderung menurun karena dianggap kurang menguntungkan. Sebaliknya, kebijakan pemerintah lebih fokus pada sapi potong dan unggas, yang mungkin membuat generasi muda lebih tertarik karena potensi keuntungan yang lebih jelas,” ujarnya, dikutip dari laman IPB.

 

Berita Terkini