Daryono Ungkap Alasan Gempa Gunung Salak Rusak Ratusan Rumah di Sukabumi-Bogor

Daryono Ungkap Alasan Gempa Gunung Salak Rusak Ratusan Rumah di Sukabumi-Bogor

Gempabumi tektonik mengguncang wilayah Sukabumi dan Bogor pada Kamis (15/101/2026). (Sumber Foto: BMKG)

SUKABUMIUPDATE.com - Peristiwa gempa bumi tektonik yang mengguncang wilayah Kabandungan di Kabupaten Sukabumi serta Pamijahan di Kabupaten Bogor pada Kamis sore (15/10/2026) menjadi peringatan penting bagi masyarakat. Meskipun berkekuatan relatif kecil, gempa dangkal yang berpusat di kawasan Gunung Salak itu terbukti mampu merusak ratusan rumah warga.

Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor saat itu diguncang dua gempa tektonik dangkal dalam selang waktu kurang dari 10 menit.

Gempa pertama episenter terletak pada koordinat 6,73 LS dan 106,61 BT berkekuatan M3,5 terjadi pukul 17.49.43 WIB dengan kedalaman 9 km, berpusat sekitar 3 km barat laut Kabandungan. Gempa kedua episenter terletak pada koordinat 6,73 LS dan 106,60 BT berkekuatan Magnitudo (M) 4,1 terjadi pukul 17.58.22 WIB dengan kedalaman 5 km, berpusat sekitar 4 km barat laut Kabandungan.

Guncangan kedua gempa dirasakan cukup kuat di wilayah Kabandungan, Sukabumi, dan Pamijahan, Bogor, mencapai intensitas IV MMI. Pada intensitas ini, guncangan dirasakan banyak orang di dalam rumah, pintu dan jendela berderik, serta benda-benda dapat bergoyang.

Baca Juga: 349 Bangunan di Bogor dan Sukabumi Rusak, 1 Warga Terluka: Dampak Gempa Gunung Salak

Hingga Jumat, 16 Oktober 2026, pukul 01.00 WIB, BMKG mencatat 5 gempa susulan dengan magnitudo berkisar M1,6 hingga M2,4 setelah gempa M4,1.

Meskipun magnitudonya relatif kecil, dampak gempa cukup signifikan. Berdasarkan laporan sementara, di Kabupaten Bogor tercatat 253 rumah dan 5 fasilitas ibadah mengalami kerusakan. Sebanyak 11 kampung di Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan, dan Desa Purasari, Kecamatan Leuwiliang, terdampak gempa. Enam warga Kampung Muaradua dilaporkan mengungsi akibat kerusakan rumah.

Sementara itu, di Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, tercatat 96 rumah mengalami kerusakan ringan, termasuk di Desa Tugubandung dan Desa Kabandungan.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) sekaligus pakar seismologi, Dr. Daryono, mengatakan peristiwa ini menunjukkan bahwa besarnya magnitudo gempa tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kerusakan yang ditimbulkan.

"Gempa tidak harus bermagnitudo besar untuk menimbulkan kerusakan. Peristiwa gempa di wilayah Kabandungan, Sukabumi, dan Pamijahan, Bogor, pada Kamis sore, 15 Oktober 2026, menjadi pengingat penting bahwa gempa kecil dan dangkal yang terjadi dekat permukiman dapat merusak ratusan rumah serta memaksa warga meninggalkan tempat tinggalnya," ujar Daryono dalam keterangannya, Sabtu (17/10/2026).

Baca Juga: Mengapa Gempa M6,6 di Laut Jawa Lebih Kuat Terasa di Sukabumi? Ini Penjelasan Ahli

Dari perspektif seismologi, lanjut Daryono, kedua gempa termasuk jenis shallow crustal earthquake, yaitu gempa tektonik yang sumbernya berada pada kerak bumi bagian dangkal.

"Aktivitas ini diduga kuat berkaitan dengan pergerakan sesar aktif di sekitar Kabandungan. Namun, identifikasi sesar penyebab secara definitif memerlukan analisis lebih lanjut terhadap lokasi hiposenter, mekanisme sumber, dan kondisi tektonik setempat," jelasnya.

Daryono memaparkan bahwa terdapat 3 faktor penting yang dapat menjelaskan kerusakan akibat gempa bermagnitudo kecil tersebut.

Pertama, sumber gempa sangat dangkal. Kedalaman hiposenter hanya 5–9 km sehingga energi gelombang seismik menempuh lintasan relatif pendek menuju permukaan. Pada lokasi yang dekat dengan sumber, guncangan dapat terasa kuat meskipun magnitudo gempa kecil.

"Kedua, kerentanan struktur bangunan. Rumah dengan konstruksi yang tidak memenuhi prinsip bangunan tahan gempa, seperti sambungan antarelemen struktur yang lemah, tidak adanya pengikat struktural yang memadai, serta kualitas material yang rendah, lebih mudah mengalami kerusakan ketika menerima guncangan," kata dia.

Kemudian yang ketiga, Daryono menyebut akibat pengaruh kondisi tanah setempat atau local site effect. Lapisan tanah lunak atau endapan lepas tertentu dapat memperkuat amplitudo guncangan seismik (seismic amplification). Dalam kondisi tertentu, kesesuaian frekuensi dominan getaran tanah dgn frekuensi alami bangunan dapat meningkatkan respons getaran melalui fenomena resonansi.

"Pengaruh ini perlu dibuktikan melalui kajian kondisi tanah dan respons seismik setempat. Dengan demikian, tingkat kerusakan merupakan hasil interaksi antara karakteristik sumber gempa (source), perambatan gelombang (path), kondisi tanah (site), dan kerentanan bangunan (structural vulnerability)," tambahnya.

Baca Juga: Sosok Terduga Pelaku Pembunuhan IRT di Ciemas Sukabumi, Sempat Kabur Saat Tahlilan

Mantan Direktur Gempa dan Tsunami BMKG itu kemudian mengingatkan warga Sukabumi dan Bogor bahwa ancaman gempa bumi tidak hanya berasal dari zona megathrust di Samudera Hindia selatan Jawa, tetapi juga dari sesar-sesar aktif daratan yang melintasi kawasan pemukiman.

"Wilayah Sukabumi dan Bogor berada dalam lingkungan tektonik Jawa Barat yang kompleks, dengan keberadaan sejumlah sesar aktif. Karena itu, ancaman gempa tidak hanya berasal dari zona megathrust di selatan Jawa, tetapi juga dari aktivitas sesar aktif di daratan yg dapat menghasilkan gempa dangkal dekat kawasan permukiman," ungkapnya.

Menurutnya pengalaman gempa merusak di wilayah ini menjadi pelajaran bahwa gempa kecil sekalipun tidak boleh diremehkan, terutama jika sumbernya dangkal, dekat permukiman, dan bangunan memiliki kerentanan tinggi.

"Gempa memang tidak dapat dicegah, tetapi risiko korban jiwa dan kerusakannya dapat dikurangi. Pengalaman Sukabumi dan Bogor mengingatkan kita bahwa ancaman bukan hanya datang dari gempa besar, melainkan juga dari gempa kecil yang sumbernya sangat dangkal dan berada dekat permukiman," tuturnya.

Meski demikian, Daryono menegaskan bahwa rentetan gempa kecil tersebut tidak dapat dijadikan dasar ilmiah untuk memprediksi secara pasti akan terjadinya gempa yang lebih besar di masa mendatang.

"Waktu, lokasi, dan magnitudo gempa berikutnya belum dapat diprediksi secara tepat," tegasnya.

Daryono menyebut langkah mitigasi paling penting adalah meningkatkan ketahanan bangunan terhadap gempa. Rumah harus dibangun dengan struktur yg kuat, material berkualitas, fondasi sesuai kondisi tanah, serta hubungan antarelemen struktur yang baik. Pembangunan dan perkuatan rumah perlu mengikuti standar teknis bangunan tahan gempa yang berlaku.

"Bangunan yg sudah mengalami kerusakan perlu diperiksa terlebih dahulu sebelum ditempati kembali, terutama apabila ditemukan retakan pada elemen struktur, pergeseran dinding, atau kerusakan pada kolom dan balok. Masyarakat juga perlu memahami tindakan perlindungan diri saat gempa, mengenali tempat aman, mengamankan perabot yang berpotensi roboh, serta mengikuti informasi resmi BMKG dan arahan pemerintah daerah," pungkasnya.

Berita Terkini