Cabai Tembus Rp70 Ribu per Kg, Penjual Nasi Bungkus di Kota Sukabumi Pangkas Belanja

Cabai Tembus Rp70 Ribu per Kg, Penjual Nasi Bungkus di Kota Sukabumi Pangkas Belanja

Harga cabai merah besar lokal di Kota Sukabumi melonjak tembus Rp70 ribu/kg, Senin (12/10/2026). (Sumber Foto: SU/Asep Awaludin)

SUKABUMIUPDATE.com - Harga sejumlah komoditas pangan di Kota Sukabumi mengalami fluktuasi signifikan. Berdasarkan hasil pemantauan di Pasar Pelita dan Pasar Tipar Gede pada Senin (12/10/2026), harga cabai merah besar lokal, kacang buncis, dan mentimun tercatat meroket, sedangkan harga komoditas beras justru mengalami penurunan.

Data resmi dari Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumindag) Kota Sukabumi menunjukkan rincian perubahan harga bahan pangan. Rinciannya, harga cabai merah besar lokal naik dari Rp65.000 menjadi Rp70.000 per kilogram.

Kacang buncis dari sebelumnya Rp16.000 menjadi Rp18.000 per kilogram. Kemudian harga mentimun dari Rp8.000 menjadi Rp10.000 per kilogram.

Di tengah tren kenaikan sayur-mayur tersebut, harga beras premium justru membawa kabar baik bagi konsumen. Beras jenis Ciherang Cianjur 1 dan beras premium kelas 1 sama-sama turun dari Rp15.200 menjadi Rp14.880 per kilogram. Jika dikonversi ke satuan volume, beras yang sebelumnya dijual seharga Rp13.000 per liter kini turun menjadi Rp12.500 per liter.

Baca Juga: Kantor Desa Cibaregbeg Sukabumi Dibobol Maling, Barang Elektronik Senilai Rp60 Juta Raib

Kasi Perdagangan Diskumindag Kota Sukabumi, Rifki, membenarkan adanya fluktuasi harga pada sejumlah barang pokok, sementara sebagian komoditas lainnya terpantau masih stabil.

"Perubahan harga tersebut menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat yang setiap hari membeli bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga," ujar Rifki kepada sukabumiupdate.com, Senin (12/10/2026).

Lonjakan harga bahan baku ini pun langsung memukul para pelaku usaha kuliner kecil yang bergantung pada komoditas sayuran. Rohim (43), seorang penjual nasi bungkus di Kota Sukabumi, mengaku harus memutar otak dan terpaksa memangkas kuantitas belanja cabainya demi menekan biaya operasional.

"Lumayan berpengaruh, apalagi cabai naik. Itu kan jadi kebutuhan di warung. Paling dikurangin, biasanya dua kilo, sekarang beli sekilo," ungkap Rohim.

Baca Juga: Gempa M4,6 Muarabinuangeun Banten, Getaran Terasa hingga Palabuhanratu dan Ciemas Sukabumi

Meski biaya modal belanja dapur membengkak, Rohim mengaku memilih untuk bertahan dan belum menaikkan harga jual nasi bungkusnya agar tidak ditinggalkan pelanggan. Ia berharap stabilitas harga pangan, terutama cabai, bisa segera kembali normal.

"Nggak, nggak naik. Ya, mudah-mudahan harga cabai bisa turun lagi aja," pungkasnya.

Berita Terkini