bankbjb

Sejarah Samen di Sukabumi: Slagen Voor Het Examen hingga Tradisi Lama Eropa

Minggu 26 Jun 2022, 10:30 WIB
Sejarah Samen di Sukabumi: Slagen Voor Het Examen hingga Tradisi Lama Eropa

SUKABUMIUPDATE.com - Momen ajaran baru identik dengan selebrasi masyarakat yang akrab disebut samen. Di Sukabumi, aktivitas ini seolah menjadi tradisi wajib saat acara kenaikan kelas. Tahun 2022, menjadi pembuka bergeliatnya euforia samen, setelah terkunci pandemi Covid-19 selama dua tahun terakhir.

Pengamat sejarah Sukabumi Irman Firmansyah mengatakan konon istilah samen berasal dari bahasa Belanda yaitu samen yang artinya bersama. Namun, mengingat tradisi samen di masyarakat merujuk pada rangkaian kegiatan kenaikan kelas dalam artian mensyukuri kelulusan baik dalam proses naik ke kelas berikutnya maupun perpisahan karena sudah lulus menjalani seluruh kelas, maka istilah ini lebih pas berasal dari kata slagen voor het examen yang artinya lulus ujian.

Kebiasaan pelafalan asing, kata Irman, sering kali menyesuaikan dengan lidah lokal, sehingga examen dilafalkan dengan samen yang ketika diartikan juga memang ada kegiatan bersama. Samen dengan arti bersama malah lebih dikenal dengan istilah negatf yaitu samen leven yang keliru dimaknai kumpul kebo. Padahal makna sesungguhnya adalah hidup berdampingan.

"Samen berasal dari kebiasaan masyarakat Sunda sukabumi yang selalu merayakan sesuatu baik dengan selamatan maupun arak-arakan," kata Irman kepada sukabumiupdate.com, Ahad (26/6/2022). Biasanya dalam selametan panen acap kali mengarak hasil bumi menggunakan dongdang.

photoPenampilan Gema Suara Opa Oma, marching band unik yang saat ini kebanjiran job acara samen di Sukabumi - (Kemenparekraf RI)

Baca Juga :

Tradisi ini kemudian diadopsi Belanda saat merayakan sesuatu di wilayah Sukabumi. Misalnya dalam perayaan hari lahir Ratu Juliana selalu ada pesta (feest) yang dimaksudkan sebagai selamatan. Kemudian optocht (berupa pawai atau arak-arakan). Yang masih kental adat sundanya biasanya dalam perayaan hasil perkebunan seperti di Cibungur, setiap selesai panen perkebunan maka dilakukan pesta topeng, wayang golek, yang disertai arak-arakan hasil bumi dan kesenian masyarakat.

Irman yang sudah menulis beberapa buku tentang Sukabumi, salah satunya "Soekaboemi the Untold Story", mengatakan kgiatan pesta dan pawai perkebunan tersebut juga banyak diikuti perkebunan lain seperti Parakansalak, Sinagar, dan Coiwangi. Sehingga tak heran apabila banyak perkebunan di Sukabumi saat itu memiliki gamelan dan wayang golek serta para nayaganya karena setiap pekan akan pentas menghibur para pekerja kebun.

Pawai atau parade sendiri sebenarnya sudah menjadi tradisi lama di Eropa yang berasal dari pawai kemenangan pasukan Romawi saat menaklukan negeri taklukannya. Kecocokan tradisi ini kemudian menguatkan kepentingan Belanda untuk melakukan tradisi selametan dan pawai, baik untuk menghormati tradisi lokal maupun menyelipkan tradisinya sendiri. Tak heran dalam perayaan-perayaan tersebut akan muncul seni dan budaya Eropa dan Sunda yang diangkat dalam kegiatan.

"Misalnya pentas silat, tari sunda, bahkan dalam arak-arakan pun seperti layaknya arak-arakan Sunda biasanya membawa hasil bumi, alat kesenian, dan lain-lain," kata Irman.


Halaman :
BERITA TERPOPULER
Berita Terkini