TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
bankbjb

Indonesia Peringkat 5 Global, Negara Paling Berisiko Kena Serangan Siber

Indonesia menduduki peringkat nomor satu dalam hal peringkat risiko untuk bulan Oktober dan menduduki peringkat lima secara global dalam daftar tersebut.

Kamis 1 Des 2022, 21:00 WIB

Ilustrasi Pelaku Kejaharan Siber | Freepik

SUKABUMIUPDATE.com - Asia mengalami serangan siber paling banyak pada kuartal ketiga tahun 2022 dibandingkan dengan wilayah lain di seluruh dunia, dengan rata-rata 1.778 serangan mingguan per organisasi menurut Check Point’s Threat Intelligence Report.

Di antara semua negara di Asia Tenggara, Indonesia menduduki peringkat nomor satu dalam hal peringkat risiko untuk bulan Oktober dan menduduki peringkat lima secara global dalam daftar tersebut.

Tahun lalu, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengumumkan bahwa setidaknya ada 1,6 miliar serangan siber di Indonesia.

Baca Juga: 4 Juta Data Pengguna WhatsApp Indonesia Diduga Bocor, Dijual di Forum Hacker

Formalisasi UU PDP ini bertujuan untuk melawan serangan-serangan tersebut dan menurunkan angka risiko serangan siber.

"Meningkatnya tingkat serangan siber di Indonesia dan pelanggaran keamanan besar membuktikan bahwa ancaman keamanan siber semakin canggih dan sulit dideteksi," kata Deon Oswari, Country Manager, Indonesia, Check Point Software Technologies seperti melansir dari Suara.com.

Menurutnya, dengan disetujuinya RUU Perlindungan Data Pribadi di Indonesia dan pengesahan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi, merupakan langkah ke arah yang tepat dan akan membantu menjaga kepercayaan masyarakat karena banyak informasi pribadi dan sensitif telah dijual oleh kelompok yang tidak bertanggung jawab.

Meskipun ada perubahan dalam undang-undang, Deon menyatakan bahwa tantangan keamanan siber yang dihadapi oleh perusahaan dan individu masih ada di Indonesia.

Baca Juga: Bjorka Bobol 3,2 Miliar Data PeduliLindungi, Beri Sampel Data Luhut dan Deddy Corbuzier

Tantangan-tantangan ini termasuk kurangnya kesadaran keamanan siber, penegakan hukum untuk perlindungan data pelanggan, dan keterampilan manajemen keamanan siber itu sendiri.


Halaman :
Berita Terkait
BERITA TERPOPULER
Berita Terkini
x