Ilmuwan BRIN: Super El Nino Bukan Panas Biasa, Waspada Heat Stress! Istirahat Tiap Satu Jam

Ilmuwan BRIN: Super El Nino Bukan Panas Biasa, Waspada Heat Stress! Istirahat Tiap Satu Jam

Ilustrasi cuaca panas terik. (Sumber : Magnifici.com).

SUKABUMIUPDATE.com – Ahli klimatologi dan perubahan iklim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Erma Yulihastin, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai risiko heat stress atau tekanan panas akibat cuaca ekstrem yang masih berlangsung pada Oktober 2026.

Profesor Klimatologi dan Perubahan Iklim yang bertugas di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN itu menjelaskan, tingkat heat stress masih berada pada level waspada. 

“Kesehatan secara umum memang kita rentan akan mengalami heat heat stress ya. Stress yang terjadi karena efek panas yang ekstrem. Nah, itu harus diketahui bahwa heat stress-nya ini level-nya masih waspada. Artinya belum turun, belum turun meskipun kita sudah masuk bulan Oktober, kita kira November sudah musim hujan ternyata enggak gitu kan,” kata Erma dalam akun media sosialnya.

Erma turut menyoroti indeks Wet Bulb Globe Temperature (WBGT), yakni indikator untuk mengukur tingkat tekanan panas yang dialami tubuh manusia di lingkungan kerja maupun luar ruangan.

Berdasarkan hasil kajian yang disampaikannya, anomali indeks WBGT di Jawa Barat, khususnya kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), tidak menunjukkan perbedaan signifikan antara September dan Oktober 2026.

Indeks WBGT yang bernilai positif menunjukkan adanya anomali panas yang berpotensi berdampak langsung terhadap kesehatan melalui tekanan panas (heat stress).

Erma menegaskan, kondisi panas yang dikaitkan dengan fenomena Super El Niño tersebut tidak bisa dianggap sebagai panas biasa karena berpotensi memberikan dampak serius terhadap kesehatan apabila masyarakat tidak melakukan langkah antisipasi.

“Efek Super El Nino ini sungguh tak bisa dianggap panas biasa. Ini panas yang luar biasa dampaknya,” ujarnya dalam keterangan.

Selain membatasi aktivitas luar ruangan, menjaga hidrasi, dan beristirahat secara berkala, masyarakat dianjurkan memanfaatkan tempat berpendingin udara untuk mengurangi paparan panas berlebihan.

Erma juga menyarankan agar penyelenggaraan kegiatan olahraga luar ruangan, seperti lomba lari dan maraton, dibatasi atau disesuaikan selama cuaca panas terik masih berlangsung pada Oktober 2026.

Langkah pencegahan tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang melakukan aktivitas fisik dengan intensitas tinggi di bawah paparan sinar matahari.

Menurut Erma, kondisi tersebut berkaitan dengan tertundanya musim hujan serta angin dari Australia yang masih cukup kuat membawa karakteristik musim kemarau.

“Heat stress-nya ini levelnya masih waspada. Artinya, belum turun meskipun kita sudah masuk bulan Oktober. Kita kira November sudah musim hujan, ternyata enggak,” ujar Erma.

Ia menjelaskan, dampak panas ekstrem terhadap kesehatan dapat berbeda pada setiap orang, bergantung pada kondisi fisik masing-masing. Namun, paparan panas berlebihan secara umum dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat tekanan panas.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Erma mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama kegiatan yang menguras energi dan dilakukan saat matahari berada pada puncak intensitasnya.

Masyarakat juga disarankan tidak terlalu lama terpapar sinar matahari. Selain itu, aktivitas fisik yang berat sebaiknya dikurangi ketika suhu udara sedang tinggi.

“Yang pertama adalah menghindari terlalu lama terpapar. Jangan lebih dari empat jam saat beraktivitas di luar,” katanya.

Erma juga mengingatkan pentingnya mengambil jeda istirahat secara berkala, termasuk bagi masyarakat yang beraktivitas di dalam ruangan tanpa pendingin udara atau AC.

Menurut dia, ruangan yang hanya menggunakan kipas angin belum tentu mampu memberikan perlindungan optimal dari tekanan panas. Karena itu, pekerja disarankan beristirahat secara berkala, misalnya setiap 30 menit hingga satu jam, dengan jeda sekitar lima menit untuk menggerakkan tubuh sebelum kembali bekerja.

Langkah berikutnya adalah menjaga kecukupan cairan tubuh dengan rutin minum air putih agar tidak mengalami dehidrasi. Masyarakat juga disarankan mencari tempat yang lebih sejuk ketika suhu terasa sangat panas.

“Ketika sudah panas ekstrem, cari mal atau gedung-gedung yang berpendingin. Itu juga salah satu cara alternatif untuk mendinginkan suhu tubuh supaya tidak terlalu lama terpapar panas ekstrem,” tuturnya.



Berita Terkini