SUKABUMIUPDATE.com - Cuaca ekstrem dengan curah hujan tinggi selama beberapa bulan terakhir memukul usaha rakyat di Desa Cijati, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Sukabumi. Para pengrajin tepung sagu nyaris tidak bisa berproduksi karena selama ini mengandalkan matahari untuk proses pengeringan (dijemur).
Rumah produksi tepung sagu di kawasan ini terlihat minim aktivitas. Salah satunya yang berada di Kampung Cinagrog, yang sudah hampir sebulan menghentikan aktivitas produksi tepung sagu.
“Sekarang produksinya turun, nggak bisa jemur hujan terus. Kalau lembab kan rusak tepungnya,†jelas salah seorang pekerja rumah produksi tepung sagu di Kampung Cinagrog, Opik (40) kepada sukabumiupdate.com, Kamis.
BACA JUGA:
Kecamatan Cicurug Fasilitasi Usaha Sepatu Pengungsi Aleppo
Rumah Disita Bank, Nasabah Koperasi Bina Usaha Sukabumi Ngamuk
Mengintip Usaha Arang Batok Kelapa Cibolangkaler
Pembuatan tepung sagu secara tradisional menurut Opik membutuhkan waktu dua hingga tiga hari masa penjemuran, itu pun seharian harus cerah. “Hujan bisa nyampe seminggu untuk ngeringin. Kualitas tepungnya juga berkurang,†lanjut Opik.
Di kawasan ini rata-rata usaha tepung sagunya masih menggunakan cara tradisional sehingga faktor cuaca menjadi penentu. “Kalau banyak hujan yang tinggi kadar airnya. Harganya juga jatuh. Semoga pemerintah bisa memberi bantuan mesin pengering agar usaha rakyat ini tetap langgeng,†pungkas Opik.
