Ketika Doa dan Kemenyan Menyertai Pencarian Korban Laka Laut Pantai Cibuaya Sukabumi

Ketika Doa dan Kemenyan Menyertai Pencarian Korban Laka Laut Pantai Cibuaya Sukabumi

Kang Baban Warga Surade saat ikut membantu pencarian korban laka laut Pantai Cibuaya Sukabumi dengan berdoa dan membakar kemenyan. (Sumber Foto: SU/Ragil Gilang)

SUKABUMIUPDATE.com - Deburan ombak Pantai Cibuaya di Desa Pangumbahan, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, pada siang itu tampak seperti biasa. Gemuruhnya memikat dan buih putihnya memanggil siapa saja untuk datang.

Destinasi wisata ini dikenal selalu ramai dikunjungi pelancong dan lokasinya pun tak jauh dari pos pengamanan terpadu. Namun, bendera merah selaku sang penanda area berbahaya yang dulu pernah berdiri gagah di bibir pantai, sudah lama hilang dari pandangan.

Tanpa menyadari adanya ancaman maut yang mengintai di balik gulungan arus bawah laut, petaka nahas menimpa rombongan wisatawan asal Kota Bekasi pada Sabtu sore, 10 Oktober 2026 sekitar pukul 16.52 WIB.

Tujuh pemuda yang berniat menikmati liburan dari Ujunggenteng hingga Cibuaya memutuskan menceburkan diri untuk bermain air. Canda tawa seketika berubah menjadi jerit histeris saat ombak laut selatan menghantam ganas. Lima orang terseret arus deras; tiga berhasil diselamatkan warga, namun dua lainnya lenyap ditelan samudra.

Dua remaja yang hilang tersebut adalah Zaky Risky Syabani (17) dan Muhamad Zubair (18).

Baca Juga: Panggil Sesepuh dan Bakar Kemenyan, Sisi Lain Pencarian Korban Tenggelam di Sukabumi

Misi Kemanusiaan Lintas Instansi di Perairan Selatan

Sejak Minggu, 11 Oktober 2026, perairan laut Pangumbahan seketika berubah menjadi arena operasi SAR berskala besar. Gelombang solidaritas bergerak cepat. Tim SAR gabungan langsung dikerahkan secara masif, mulai dari personel Pos SAR Sukabumi, BPBD, Polsek, Polairud, Pos TNI AL, TNI AU, Balawista, hingga organisasi relawan daerah seperti Jampang Peduli, Wanadri, dan SARDA Sukabumi, dengan didampingi perwakilan keluarga serta BPBD Kota Bekasi.

Jalur laut disisir ketat menggunakan perahu karet TNI AL, speedboat milik Ocean View Resort, hingga armada perahu nelayan lokal yang tengah beroperasi melaut. Di darat dan udara, pemantauan visual dilakukan tanpa henti, termasuk menerbangkan unit drone canggih yang menjangkau radius pemantauan hingga 7 kilometer. Namun, hingga hari kedua pencarian, laut selatan Sukabumi seolah masih enggan menyerahkan kedua tubuh remaja malang tersebut.

Sisi Tradisional yang Berjalan Bersama Logika

Di tengah deru raungan mesin perahu SAR dan dengung kepakan drone di udara, terdapat sebuah peristiwa pada Senin sore, 12 Oktober 2026 sekitar pukul 15.30 WIB yang luput dari sorot kamera media. Bagi masyarakat adat Pajampangan, misi pencarian korban tenggelam di laut selatan tidak hanya melulu soal logika sains, kecanggihan teknologi, dan koordinasi medis. Dunia spiritual dan kearifan lokal kerap berjalan berdampingan sebagai warisan turun-temurun yang dihormati.

Sore itu, Ketika doa dan kemenyan menyertai pencarian korban laka laut, seorang warga Kecamatan Surade bernama Kang Baban datang mendatangi lokasi dan melebur bersama rombongan tim SAR gabungan. Setelah sempat bertukar informasi singkat dengan para petugas di posko, langkah kakinya bergerak tenang menuju bibir Pantai Cibuaya.

"Kami murni berdoa berserah diri meminta kepada Allah SWT, agar tim di lapangan segera diberi petunjuk titik keberadaan kedua korban," ucap Kang Baban kepada sukabumiupdate.com usai merampungkan ikhtiarnya.

Baca Juga: Ritual Bakar Kemenyan dan Mitos Penunggu Saat Pencarian Korban Tenggelam di Sukabumi

Ia berdiri diam sejenak, memandang lurus ke hamparan laut lepas yang tengah bergolak. Kang Baban kemudian mengambil posisi duduk bersila di atas hamparan pasir. Matanya terpejam rapat, mulutnya komat-kamit khusyuk memanjatkan doa keselamatan. Dari saku bajunya, ia mengeluarkan serbuk kemenyan tradisional, lalu membakarnya di selongsong sebatang rokok.  Asap tipis segera membumbung tinggi, membawa aroma khas yang berbaur dengan asinnya embusan angin laut.

Setelah rokok itu habis terkikis bara api, Kang Baban bangkit berdiri. Dengan gerakan mantap, ia memungut beberapa batu kerikil kecil di sekitarnya dan melemparkannya secara bergantian ke arah kiri, kanan, serta lurus ke tengah laut. Bagi warga pesisir lokal, perpaduan antara ikhtiar lahiriah (teknologi) dan batiniah (doa dan kemenyan) adalah satu kesatuan mutlak yang tidak terpisahkan setiap kali berhadapan dengan keganasan samudra.

Baca Juga: Petugas Razia Warung dan Kafe di Pesisir Ujunggenteng Sukabumi, Puluhan Botol Miras Disita

Titik Terang di Hari Ketiga Pencarian

Entah sebuah kebetulan matematis yang presisi atau merupakan jawaban atas bersatunya doa semua pihak, keesokan harinya pada Selasa pagi, 13 Oktober 2026, titik terang yang dinanti-nanti akhirnya muncul di pencarian hari ketiga.

Sekitar pukul 07.35 WIB, jasad korban pertama, Zaky Risky Syabani, ditemukan mengambang oleh nelayan di spot Karangsapi, perairan laut Pangumbahan dengan jarak sekitar 3 Nautical Miles (NM) dari lokasi awal musibah. Tak berselang lama, sekitar pukul 09.38 WIB, tim SAR gabungan kembali berhasil menemukan jasad korban kedua, Muhamad Zubair, di kawasan Cipanarikan Pasir Putih yang berjarak sekitar 2 NM dari titik hilangnya korban.

Kedua remaja tersebut ditemukan dalam kondisi sudah meninggal dunia. Isak tangis haru bercampur duka mendalam langsung pecah menyambut evakuasi jenazah sebelum dipulangkan ke rumah duka di Kota Bekasi.

Tragedi pilu di Pantai Cibuaya ini kini menyisakan catatan penting bagi industri pariwisata setempat. Hilangnya bendera merah sebagai rambu penanda area rawan merupakan aspek keselamatan mendesak yang wajib dievaluasi oleh pengelola wisata maupun instansi terkait. Di sisi lain, akhir dari pencarian Zaky dan Zubair mengukuhkan sebuah kisah unik tentang bagaimana teknologi modern, ketangguhan fisik puluhan personel SAR, serta kekuatan doa tradisional ala Pajampangan bisa melebur harmonis demi satu tujuan mulia: menyempurnakan kepulangan anak manusia.

Berita Terkini