Tujuh Bulan Belum Ada Kejelasan, Puluhan Warga Sirnaresmi Kabupaten Sukabumi Datangi Sekretariat GMB

[object Object]
Senin 24 Apr 2017, 01:03 WIB
Tujuh Bulan Belum Ada Kejelasan, Puluhan Warga Sirnaresmi Kabupaten Sukabumi Datangi Sekretariat GMB

SUKABUMIUPDATE.com - Puluhan warga Kampung Tanjungsari, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, kecewa dengan sikap ketua salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (LSM GMBI) Distrik Sukabumi Raya, Koordinator Wilayah (Korwil) 5 jawa Barat, terkait pendampingan pembebasan tanah yang selama tujuh bulan belum ada kejelasan.   

Lantaran kecewa, warga mendatangi Sekretariat Ormas yang berada di Cikiray, Kecamatan Cisaat, Minggu (23/4) kemarin. Agung Sugiato, perwakilan warga Kampung Tanjungsari RT 01/07 Desa Sinaresmi Kecamatan, Gunungguruh mengatakan, kedatangannya bersama warga untuk menanyakan kelanjutan pendampingan pembebasan lahan.

"Ya waktu itu warga mempercayakan kepada sebagai Ketua GMBI, Freddy Sugara, untuk mendampingi pembebasan lahan kepada pihak SCG. dan telah memberikan semua data dan amdal masyarakat. Namun, setelah tujuh bulan belum ada kejelasan," beber Agung melalui sambungan telepon kepada sukabumiupdate.com, Senin (24/4) pagi.

Dijelaskannya, pembebasan tersebut diajukan lantaran sekitar 300 kepala keluarga (KK) di Desa Sinaresmi yang berdekatan dengan Pabrik SCG (Siam Cement Group-red) diduga terkena efek dari polusi debu, bising, dan getarannya. "Waktu itu memang pernah di rembukkan, apakah menerima kompensasi atau pembebasan lahan dengan nilai Rp1,2 miliar per are," jelasnya.

BACA JUGA:

MUI Rapatkan Isu Kriminalisasi Ulama, Markas GMBI Sukabumi Dijaga Ketat

LSM GMBI Sukabumi Tantang Morbag

Asal Beri Izin Amdal, GMBI Kecam BLH Kabupaten Sukabumi

Mau Gabung GMBI Sukabumi, Harus Bersih dari Alkohol dan Narkoba

Alasan warga meminta ganti rugi sebesar Rp1,2 miliar per are, karena melihat nilai jual objek pajak (NJOP) di kali tiga, sebab warga merasa terusir, teraniaya, dan terzolimi.

Intinya lanjut Agung, warga kecewa dan menanyakan pendampingan tersebut, bukan untuk menjatuhkan lembaga atau nama baik seseorang. "Intinya kami kecewa dan akan buatkan surat, bahwa kami sudah tidak didampingi Freddy serta meminta dokumen dikembalikan. Apalagi tidak ada jawaban sama sekali dari pihak SCG," pungkasnya.

Karena mendapat tekanan dari warga, ungkap Agung, akhirnya Freddy mundur dan tidak melakukan pendampingan lagi. “Kami akan kumpul lagi dengan para sesepuh warga, kapan akan mendatangi pihak SCG. Karena baru kemarin mengambil kembali dokumen 80 KK sesuai yang tercatat,” ungkapnya.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua GMBI Freddy Sugara CL, membenarkan jika warga Kampung Tanjungsari, Desa Sirnaresmi mendatangi sekretariatnya untuk menanyakan tindak lanjut pembebasan tanah dari pihak SCG.

"Kami hanya mendampingi saja, karena warga memberikan data seperti KK, SPPT (Surat Pemberitahuan Pajak Terutang-red) dan KTP. Mereka ingin ada pembebasan tanah untuk disampaikan ke SCG. Kalau memang SCG tidak mengakomodir, masa harus memaksa," ujarnya melalui sambungan telepon.

Tadinya, jelas Freddy, warga berencana menggelar aksi demonstrasi lagi, namun oleh dirinya diminta untuk bersabar dulu, karena tidak ada biaya operasionalnya. "Sudah saya kembalikan semua dokumen warga sebanyak 78 KK, dan saya nggak sanggup. Apalagi seolah-olah ada yang menyebutkan di media sosial jika saya menerima sogokan Rp100 juta dari pihak SCG. Dari pada mengumbar sumpah dan warga tidak percaya, makanya semua dokumen saya kembalikan," pungkasnya. 

Berita Terkini