Janda Tiga Anak Huni Gubuk Bambu Nyaris Ambruk di Cibadak Kabupaten Sukabumi

[object Object]
Selasa 18 Apr 2017, 06:28 WIB
Janda Tiga Anak Huni Gubuk Bambu Nyaris Ambruk di Cibadak Kabupaten Sukabumi

SUKABUMIUPDATE.com – Kondisi gubuk berukuran 4x4 meter persegi itu mulai miring dan nyaris ambruk karena mulai lapuk. Agar kuat menahan terpaan angin dan guyuran hujan, tiga batang bambu ditancapkan untuk menyangga bagian bangunan yang yang rawan ambruk. 

Sementara, pada bagian atap, lembaran plastik pun digunakan, agar rembesan air hujan tigak menganggu tidur nyenyak penguninya.

Pemilik gubuk berdinding bilik bambu itu, Eka Jubaedah (42), warga Kampung Babakan RT 4/7, Desa Karang Tengah, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Di dalam rumah berlantai semen tipis tersebut, Jubaedah yang sudah tiga tahun menjanda karena ditinggal mati suaminya, almarhum Mamin, hidup bersama tiga anaknya.

Ketiga anaknya, Yusup Supriadi (18), Siti Maryati (12) sedang sekolah di sebuah pondok pesantren, dan si bungsu Amaliah Agustina (11) yang masih duduk di bangku kelas IV sekolah Dasar.

Perabotan tergelatak di lantai. Pakaian yang terlipat rapih terlihat ditutupi plastik demikian halnya tempat tidur mereka. “Agar tidak basah kalau hujan turun. Sebab gentengnya banyak yang pecah, sehingga kalau hujan air hujan masuk ke dalam rumah," terang pemilik rumah tak layak huni ini.

BACA JUGA:

Miris, Ini Cara Rohayati Asal Cikangkung Kabupaten Sukabumi Tetap Sehat

Asa Robia, Bocah Miskin Warungkiara Kabupaten Sukabumi yang Terancam Buta

Di Gubuk Kecil, Pasangan Lansia Miskin di Ciracap Kabupaten Sukabumi Hidup dari Belas Kasihan

Eka Jubaedah mengaku tidak mampu memperbaiki rumah tersebut. Bahkan, untuk menutupi biaya hidup sehari-hari, ia mengandalkan nafkah dari anak pertamanya Yusup Supiradi. 

“Kalau saya hanya kuli nyuci dan menyetrika saja. Kadang dapat 50 ribu Rupiah. Tapi kadang tak dapat uang sama sekali karena tidak ada yang mau mencucikan bajunya ke saya. Sekarang yang nyuruh nyuci pakaian jarang, karena kebanyakan sudah memiliki mesin cuci,” ujarnya.

Ia mengatakan, sudah menempati rumah tak layak huni itu selama sepuluh tahun terakhir ini. Ia dan ketiga anaknya terpaksa bertahan di rumah nyaris rubuh itu, karena tidak memiliki tempat tinggal lain. “Yang penting bisa beristirahat di dalam rumah,” paparnya.

Jubaedah mengaku, rumah reyotnya sering difoto oleh orang berseragam pemerintahan, sekaligus meminta foto copy KTP dan Kartu Keluarga. “Tapi nggak tahu ke mana nyangkutnya mah,” katanya sambal tersenyum.

Lebih jauh, Jubaedah menuturkan, ia tak menampik jika dirinya memang membutuhkan bantuan pemerintah untuk memperbaiki rumah mereka. “Selama ini dari pemerintah belum ada satu pun yang peduli, yang ada hanya bantuan dari rukun warga,” jelasnya.

Berita Terkini