SUKABUMIUPDATE.com - Sosok MFF atau M. Faoz Fasha, saat ini menjadi buah bibir di Kabupaten Sukabumi, khususnya Kecamatan Ciracap. Siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Ciracap ini, terancam dikeluarkan dari sekolah karena sudah 20 hari bolos.
Masalah MFF hingga 20 hari tidak masuk ke sekolah, salah satunya karena alasan jas almamater yang tak juga kunjung diberikan pihak sekolah. Padahal menurut Dudum (45), ayah MFF, ia sudah membayar uang pembelian jas almamater tersebut.
Ditambahkan Dudum, anaknya masuk ke sekolah tersebut melalui jalur prestasi bola voli. Apalagi, tambah dia, dari sisi administrasi, tidak ada masalah. Pasalnya, iuran Kelas VII sebesar Rp700 ribu pun sudah dilunasi. Bahkan, menurutnya, saat duduk di kelas VII MFF mendapat beasiswa.
Dudum yang juga Ketua RT 14/04 Kampung Cadasngampar, Desa/Kecamatan Ciracap menjelaskan, persoalan anaknya tidak masuk ke sekolah karena persoalan baju almamater dan sepatunya robek.
“Soal sepatu memang belum kebeli. Saya hanya buruh tani garapan. Jadi belum bisa langsung membeli kebutuhan anak. Sepatu itu dibeli setahun lalu, sekarang memang sudah robek, belum mampu membeli yang baru,†ungkapnya kepada sukabumiupdate.com, Rabu (22/2).
MFF masuk ke SMPN 1 Ciracap melalui jalur prestasi olah raga, diakui Guru Olah Raga Madrasah Ibtidaiyah Cadasngampar, Kecamatan Ciracap, Badru Nurzaman. "Bakat olah raga voli MFF sudah terlihat sejak duduk di kelas IV. Alhamdulilah tahun 2014 dan 2015, tim voli kami banyak meraih prestasi gemilang,†jelasnya, Rabu.
Ditambahkan Badru, prestasi juara satu kerap diraih, seperti dari turnamen voli se-Wilayah Pajampangan, event Aksioma se-Kabupaten Sukabumi di Parakansalak meraih Juara II. Selanjutnya Juara II Turnamen Voli SMA Mutiara Cup, Juara I Milad MTSN Pasiripis, Juara I Milad SMPN 1 Ciracap, dan Juara I Milad SMPN 4 Ciracap.
“Setelah mereka lulus di tahun ajaran 2014/2015 lalu. Kami berjuang agar mereka bisa masuk ke jenjang SMPN melalui jalur prestasi olahraga voli. Alhamdulillah bisa masuk," lanjut Badru.
Ditambahkan guru lainnya, MFF salah satu atlet bola voli junior kebanggaan warga Kecamatan Ciracap. “Dia pernah ikut seleksi tim voli junior Kabupaten Sukabumi untuk berlaga di level provinsi. Namun karena minim biaya, dia memilih mundur,†terang wali kelas MFF saat duduk di bangku MI Cadasngampar, Sumardi.
Diakui Sumardi, MFF dan sejumlah rekan lainnya pernah menyabet berbagai juara voli yang pernah digelar saat itu. “MFF menonjol di bidang olahraga, kalau pelajaran biasa saja, tidak terlalu.â€
Baik Badru maupun Sumardi mengaku terkejut dengan kabar MFF terancam dikeluarkan dari SMPN 1 Ciracap karena sering bolos. “Kami sayangkan dan berharap masih ada solusi lain untuk MFF karena ia sebenarnya ia berpretasi di bidang olahraga,†pungkas Sumardi.
BACA JUGA:
Bolos Karena Sepatu Robek Siswa SMPN 1 Ciracap Kabupaten Sukabumi Dipaksa Mundur
Soal Siswa SMPN 1 Ciracap Dipaksa Keluar, FPKS Desak Komisi IV Panggil Disdik Kabupaten Sukabumi
Kepala SMPN 1 Ciracap Kabupaten Sukabumi Bantah Paksa Siswa Mengundurkan Diri
Diberitakan sebelumnya, Kepala SMPN 1 Ciracap, Heri Subekti, membantah telah melakukan pemaksaan pengunduran diri terhadap salah seorang siswa Kelas VIII, M. Faoz Fasha.
Namun, ia membenarkan meminta petugas hubungan masyarakat (Humas) bernama Mamad menemui orang tua MMF dengan membawa format surat pernyataan. Adanya pernyataan dari Mamad berisi tentang akan tetap mengeluarkan MFF dari sekolah, kata Heri, bukan merupakan kebijakan resmi dari sekolah.
“Itu tidak mewakili sekolah. Dan saya tidak pernah meminta Mamad bersikap demikian. Harusnya orang tua siswa ketika mendapat pernyataan seperti itu, segera hubungi saya,†kilah Heri saat dihubungi sukabumiupdate.com, Selasa (21/2) malam.
Soal jas almamater, terang Heri, pihak sekolah bukan tidak memberikan. Namun persoalannya, ketika pihak koperasi hendak memberikan langsung kepada siswa, MMF tidak pernah masuk kelas. “Kami sangat menyayangkan sikap media yang menyorot langkah akhirnya saja,†sesal dia.
Sementara, MFF kepada sukabumiupdate.com mengaku, tidak masuk kelas selama 20 hari karena tidak memiliki sepatu untuk bersekolah. Selain itu, kadung tersiar kabar di kalangan siswa lainnya jika ia telah dikeluarkan oleh pihak sekolah. “Saya masih ingin sekolah,†katanya, Rabu.
