Tinggal di Gubuk, Sembilan Jiwa Warga Cicurug Kabupaten Sukabumi

[object Object]
Rabu 22 Feb 2017, 23:26 WIB
Tinggal di Gubuk, Sembilan Jiwa Warga Cicurug Kabupaten Sukabumi

SUKABUMIUPDATE.com - Dua keluarga yang terdiri dari sembilan jiwa tinggal di rumah tidak layak huni berukuran sekitar 4x7 meter (28 meter persegi), di Kampung Nyangkowek RT 03/07, Desa Mekarsari, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi. 

Mereka adalah kakak adik yang sehari-hari berkeja sebagai juru parkir, dan buruh serabutan di salah satu kawasan perdagangan di Cicurug. Kedua pasangan suami istri itu, Eko Kuswara (26) dan istrinya Indah Suheryadi (21), serta keluarga kakaknya, pasangan Jasrip (37) dan Imas Maulani (33). 

Jika Eko dan Indah belum memiliki anak, maka Jasrip memiliki empat anak yang juga tinggal di rumah yang nampak keropos dan hampir rubuh tersebut.

Tak hanya hidup dalam keterbatasan, bahkan salah seorang anak dari pasangan Jasrip dan Imas, juga sudah putus sekolah sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Bahkan adik bungsu Jasrip, Pandi Ramdani (17) juga hanya mengenyam pendidikan hingga bangku kelas V SD.

“Pendapatan dari parkir hanya cukup untuk makan. Untuk sekolah anak kakak saya saja sulit. Makanya anak kakak sampai putus sekolah. Untuk memperbaiki rumah ini nggak ada uang, jadi kami benerin dengan cara menimbun barang-barang bekas,” jelas Eko.

BACA JUGA:

Pemkot Sukabumi Pikirkan Perbaikan Rumah Lansia Babakanjampang

Di Gubuk Ini, Kakek 75 Tahun Warga Gang Samsi Kota Sukabumi Menanti Seorang Diri

Di Gubuk Kecil, Pasangan Lansia Miskin di Ciracap Kabupaten Sukabumi Hidup dari Belas Kasihan

Tragisnya lagi, Eko dan Indah saat ini tengah menunggu kelahiran bayi mereka yang baru berusia empat bulan kandungan. "Jika anak saya lahir, berarti rumah ini dihuni sepuluh orang."

Rumah yang mereka tempati tersebut, merupakan warisan dari orang tua. Namun karena kakak beradik ini tak memiliki uang, rumah tersebut kian hari semakin rusak. Atap rumah saat ini, ditutupi terpal dengan sebagian genting dan langit-langit ruangan ambruk.

“Jika hujan bocor, anak-anak sering pindah ke rumah bibinya yang juga sama, mau ambruk,” jelas Eko.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, selain menjadi juru parkir, Eko juga berjualan kopi sepi seduh di pinggir jalan. Ia berharap ada bantuan untuk memperbaiki rumahnya tersebut, karena khwatir ambruk dan membahayakan nyawa.

“Kalau hujan besar, kita kadang memilih ke luar dulu, takut ambruk. Hujan deras rumah sudah basah, bocor di mana-mana,” pungkasnya.

Berita Terkini