SUKABUMIUPDATE.com - Ahmad Damini Al Damin alias Darmin (45) warga Kampung Cimenteng RT 02/12, Desa Sukasirna, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang dikabarkan jarang mengkomsumsi nasi, dibantah oleh kepala desa (Kades) setempat.
“Itu tidak benar. Darmin selalu bercanda. Selama ini warga sering memberikan makanan, dan selalu mendapat perhatian saudara-saudaranya, bahkan dari pengurus RT dan RW,†terang Kades Sukasirna, Deni Riswandi, saat mengunjungi kediaman Darmin bersama sejumlah aparat Kecamatan Cibadak, kepada sukabumiupdate.com, Selasa (20/2).
Deni mengatakan, ungkapan Darmin jangan dianggap serius, apalagi dia dinyatakan mengalami pendengaran yang kurang baik. Namun Deni mengakui jika duda anak satu itu perlu perhatian serius soal kondisi rumah Darmin yang sangat memprihatinkan.
“Beberapa tahun lalu Darmin mendapatkan renovasi melalui program Rumah Tak Layak Huni (RTLH-red). Kami pihak desa sudah mengakomodir dan merencanakan perbaikan rumah Damin yang sudah lapuk karena tidak terawat,†ujar Deni.
BACA JUGA:
Darmin dari Cibadak Kabupaten Sukabumi, Jika Sakit Pergi ke Hutan Mengeluh kepada Alam
Ketua RT Tinggal Dalam Kandang Ayam di Cibadak Kabupaten Sukabumi
Di Gubuk Kecil, Pasangan Lansia Miskin di Ciracap Kabupaten Sukabumi Hidup dari Belas Kasihan
Sementara menurut Darmin, soal dirinya jarang mengkomsumsi nasi beberpa bulan terakhir ini adalah benar adanya. “Yang merasakan itu bukan bapak-bapak pejabat, tapi saya sendiri. Memang betul saya sering nggak makan nasi. Daripada minta terus kepada saudara atau tetangga, kan lebih baik saya makan singkong,†jawab Darmin.
Darmin mengatakan, apa yang ia ucapkan bukan berarti hendak mendapatkan pertolongan dari pemerintah apalagi masyarakat. “Tetapi kalau memang pemerintah berniat ingin memperbaiki rumah saya, saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya,†katanya polos.
Terpisah, paman Darmin, Iyus Suhartono (56) mengaku tidak dapat berbuat banyak untuk membantu keponakannya itu. Soal ekonomi, nasib Iyus tidak jauh berbeda. “Saya tidak bisa mambantu keponakan saya sepenuhnya. Kehidupan ekonomi saya juga lemah. Masih serba kekurangan,†terang Iyus.
Ia mengatakan, hanya bisa mengelus dada melihat kondisi Darmin. Ketika Darmin memiliki anak, imbuh dia, dirinya langsung berinistaif untuk mengurus dan merawatnya .
“Darmin memiliki satu anak perempuan bernama Sani Mulyati. Semenjak usia tujuh bulan, Sani saya yang merawat. Sekarang sudah menikah. Ini salah satu upaya saya membantu Darmin,†cerita Iyus.
