SUKABUMIUPDATE.com - Miris, kata yang tepat untuk menggambarkan kehidupan Darmin (45), warga Kampung Cimenteng RT 02/12, Desa Sukasirna, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Dalam kemiskinannya, ia tidak saja tinggal di gubuk reyot berukuran 4x4 meter dengan dinding bilik bambu yang sudah bolong dan bocor di banyak bagian, tetapi tak pula mendapat fasilitas sosial dan kesehatan dari pemerintah.Â
Nestapa Darmin tak cukup sampai di situ, tujuh bulan usai melahirkan anak semata wayangnya yang kini sudah menikah, Sani Mulyati (20), ia digugat cerai sang istri yang tidak tahan dengan kemiskinan yang membekapnya.
Diakuinya, untuk sekadar mengenyangkan perutnya pun, ia harus menunggu orang lain membeli kayu bakar dan rumput untuk pakan ternak darinya. Bahkan, jika sedang sakit dan tidak bisa mencari rumput atau kayu bakar untuk dijual, maka tak jarang ia memilih berpuasa hingga seminggu lamanya.
“Saya sudah terbiasa mengkomsumsi singkong, karena jarang ketemu nasi. Kalau tidak ada yang bisa dimakan, saya memilih berpuasa,†demikian kepada sukabumiupdate.com Darmin bertutur, Senin (20/2).
.jpg)
BACA JUGA:
Ketua RT Tinggal Dalam Kandang Ayam di Cibadak Kabupaten Sukabumi
Di Gubuk Kecil, Pasangan Lansia Miskin di Ciracap Kabupaten Sukabumi Hidup dari Belas Kasihan
Gara-Gara Miskin, Warga Bojonghaur Sukabumi Hidup Dalam Kerangkeng
Dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya tak banyak yang bisa ia lakukan, selain mencari rumput dan kayu bakar untuk di jual ke tetangga yang memerlukan. Satu karung rumput ia jual seharga Rp10 ribu. “Paling bisa menjual rumput satu karung. Itu pun tidak setiap hari,†imbuhnya.
Lebih jauh, kepada sukabumiupdate.com Darmin mengadu bahwa ia hanya memiliki kartu tanda penduduk (KTP) sebagai barang berharga miliknya. “Saya tak memiliki jaminan kesehatan atau jaminan sosial apa pun,†tambahnya lirih.
Mirisnya lagi, apabila sakit mendera tubuhnya, ia lebih memilih merenungi nasib di tengah hutan tak jauh dari gubuknya. Diakui oleh Darmin, itulah caranya mengeluh dan mengadu kepada alam dan Tuhannya.
“Semua keluh kesah dan penyakit yang saya derita, saya sampaikan ke alam. Karena untuk meminta tolong ke tetangga, saya malu,†ratapnya.

