SUKABUMIUPDATE.com - Jagat medsos lagi ramai dengan keluhan sejumlah netizen yang menyebut instagram membatasi unggahan konten, terkait kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia, khususnya Kalimantan.
Salah satu netizen terdampak yakni Alwi Johan Yogatama. Dalam berbagai unggahannya di media sosial, Alwi memang kerap menyuarakan isu sosial dan pendidikan. Unggahan terakhirnya, ia menampilkan kondisi terkini di Kalimantan.
Dalam videonya itu, Alwi memperlihatkan langit dan pemandangan di Kalimantan yang dipenuhi kabut kuning. Alwi bingung, kontennya itu berujung di-takedown oleh Instagram.
Baca Juga: Kemarau di Cibitung Sukabumi: Pemuda Ini Salurkan Air Bersih Pakai Mobil Pribadi, Gratis!
"Padahal konten itu tidak ada kata-kata yang mengkritik pemerintah secara langsung. Saya cuma bilang, ini bukan film, ini juga bukan filter. Ini dunia nyata," ujar Alwi saat dikonfirmasi pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
Melansir tempo.co, selain kontennya yang dipaksa untuk diturunkan, Alwi juga mengeluhkan jumlah penontonnya di insta story juga menurun drastis. Dia menduga ada pembatasan yang dilakukan pemerintah terhadap orang-orang yang mengunggah terkait kebakaran hutan.
Hal yang sama juga dikeluhkan netizen atau pengguna IG lainnya. Seperti Intan dan Farida. Sebagai pengguna Instagram yang memiliki lebih dari 2 ribu pengikut, jumlah penonton instastory mereka selalu lebih dari 200 penonton. Setelah satu pekan terakhir ini mereka gencar menyuarakan isu kebakaran hutan, jumlah penonton mereka turun drastis.
Baca Juga: 349 Bangunan di Bogor dan Sukabumi Rusak, 1 Warga Terluka: Dampak Gempa Gunung Salak
Intan misalnya, dia hanya memiliki penonton instastory sebanyak empat orang. "Ini sudah lebih dari 6 jam penonton instastory-ku hanya empat orang. Biasanya sudah lebih dari 100," kata dia.
Southeast Asia Freedom of Expression Network atau Safenet, organisasi masyarakat sipil yang berjuang di isu hak digital, turut menerima laporan serupa. Menurut Safenet, penurunan paksa konten dan pembatasan pemirsa untuk menonton konten tertentu merupakan pelanggaran hak asasi.
Safenet dalam pernyataan resminya di Instagram menyampaikan, membungkam suara kritis tak akan mengubah realita kegagalan pemerintah dalam menangani kebakaran hutan dan lahan.
Baca Juga: Mengenal Dean Zandbergen, Calon Penyerang Timnas Indonesia Berdarah Depok
"Terus bersuara dan bersolidaritas terhadap sesama warga yang terdampak. Baik itu krisis karhutla, maupun krisis lainnya," tulis Safenet pada Jumat, 16 Oktober 2026.















