Situ Cipiit Sukabumi hingga Situ Sarkanjut di Garut Terdampak Kemarau Panjang

Situ Cipiit Sukabumi hingga Situ Sarkanjut di Garut Terdampak Kemarau Panjang

Sejumlah situ di Jawa Barat alami penyusutan akibat musim kemarau panjang. (Sumber : Sukabumiupdate.com/Inka Informasi Karawang,xyzalyn25).

SUKABUMIUPDATE.com - Kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Barat berdampak pada kondisi destinasi wisata alam, terutama situ atau danau hingga waduk. Hal ini dikarenakan adanya fenomena El Nino yang di prediksi bertahan hingga awal 2027.

Akibatnya sejumlah kawasan mengalami penyusutan air secara drastis, bahkan ada yang mengering hingga memperlihatkan dasar berupa tanah retak.

Berikut diantaranya:

1. Situ Cipiit Sukabumi

Salah satu destinasi yang terdampak adalah Situ Dewa Dewi Cipiit atau lebih dikenal dengan Situ Cipiit, yang berada di Kampung Rawaseel, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi.

Danau seluas 1,4 hektare yang berada di kawasan wisata hutan pinus seluas 7 hektare itu mengalami penyusutan air cukup signifikan. Cuaca kering tanpa hujan dilaporkan telah berlangsung hampir lima bulan di kawasan tersebut.

"Air Situ Cipiit mengalami surut sejak sebulan yang lalu, padahal musim kemarau sudah berjalan hampir lima bulan. Airnya surut sekitar tiga meter dari bibir daratan. Namun, danau tidak sepenuhnya kering karena masih ada genangan air di bagian tengah," ujar Den Galih kepada sukabumiupdate.com, Senin (28/9/2026).

Baca Juga: Laka Maut di Parungkuda Sukabumi: Mobil Hantam 5 Pejalan Kaki, 1 Orang Tewas

2. Waduk Jatiluhur Mengering, Dasar Waduk Bisa Dilalui Warga

Kondisi serupa terjadi di Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta. Dikutip dari akun Instagram Informasi Karawang, area Tanggul Ubrug terlihat mengering akibat kemarau panjang.

Berdasarkan pantauan visual pada 22 Oktober 2026, dasar waduk yang berada tepat di depan pintu air berukuran besar berwarna biru tampak mengering tanpa menyisakan genangan air.

Permukaan dasar waduk yang mengering bahkan terlihat dapat dilalui dengan berjalan kaki oleh sejumlah warga. Kondisi tersebut menjadi gambaran penyusutan air yang terjadi di salah satu kawasan waduk di Jawa Barat.

3. Situ Bagendit Garut, Perahu Wisata Berjejer di Area Surut

Penyusutan air juga terlihat di Situ Bagendit, objek wisata alam berupa danau yang berada di Desa Bagendit, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut.

Dalam video yang diunggah akun Instagram @situbagendit.garut, permukaan air Situ Bagendit terlihat menyusut. Sejumlah perahu wisata tampak berjejer dan bersandar di area yang mengalami surut.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi aktivitas wisata air yang menjadi salah satu daya tarik kawasan tersebut.

Baca Juga: Didampingi Budi Azhar, Asep Japar Kembalikan Berkas Calon Ketua Golkar Kabupaten Sukabumi

4. Waduk Darma Kuningan Menyusut hingga 70 Persen

Dikutip dari Instagram Kuninganmass, Waduk Darma di Kabupaten Kuningan dilaporkan juga mengalami penyusutan air hingga sekitar 70 persen akibat musim kemarau.

Penyusutan tersebut berdampak terhadap aktivitas petani ikan yang menggunakan keramba jaring apung (KJA), serta sektor wisata perahu di kawasan waduk.

Kondisi di sejumlah situ dan waduk tersebut menunjukkan bahwa dampak kemarau panjang tidak hanya berkaitan dengan perubahan kondisi lingkungan, tetapi juga menyentuh sektor pariwisata, pertanian, dan mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada sumber daya air.

5. Situ Sarkanjut

Selanjutnya dampak kemarau panjang juga terlihat di Situ Sarkanjut, Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut. Berdasarkan unggahan akun Instagram @infojawabarat, situ tersebut dilaporkan mengering hingga tidak menyisakan genangan air.

Dalam video yang diunggah, dasar Situ Sarkanjut terlihat berupa tanah yang retak akibat kekeringan. Padahal, keberadaan situ tersebut penting untuk menunjang kebutuhan air masyarakat, termasuk sektor pertanian.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa kemarau panjang tidak hanya berdampak pada daya tarik wisata alam, tetapi juga berpotensi memengaruhi ketersediaan air yang dibutuhkan masyarakat sekitar.

Baca Juga: UNESCO Perkuat Kapasitas Kreator Konten dalam Penggunaan AI yang Etis dan Bertanggung Jawab

El Nino Diprediksi Bertahan hingga Awal 2027

Kondisi kemarau panjang di tahun ini merupakan imbas dari adanya fenomena El Nino. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino berpotensi bertahan hingga awal 2027.

“Minimnya tutupan awan di wilayah Indonesia akibat pengaruh fenomena El Niño sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif, “ tulis BMKG

Selain itu, anomali suhu permukaan laut di Samudra Hindia diprediksi didominasi kondisi normal hingga anomali negatif atau lebih dingin sampai November 2026. Kondisi tersebut diperkirakan mulai menghangat pada Desember 2026 hingga Maret 2027.
Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) juga diprediksi berpeluang berada pada fase positif hingga akhir 2026.

Perkembangan fenomena iklim tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam memantau kondisi musim dan potensi kekeringan. Namun, pengaruhnya terhadap curah hujan di setiap wilayah bergantung pada dinamika atmosfer dan kondisi iklim setempat.

 

Berita Terkini