Menjaga Nyiur Pasundan, Denting Besi Herman di Waluran Sukabumi

Menjaga Nyiur Pasundan, Denting Besi Herman di Waluran Sukabumi

Produk usaha rakyat pandai besi dan logam di Waluran Sukabumi. (Sumber :Sukabumiupdate)

SUKABUMIUPDATE.com - Dentin besi yang beradu dengan palu berkali-kali memecah keheningan di pinggir jalan kabupaten ruas Mareleng - Ciracap. Suara itu, berpadu dengan kepulan asap tipis dari pembakaran arang kayu, sudah menjadi irama yang akrab bagi warga setempat maupun para pengendara yang melintas di kawasan Desa Caringin, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi.

​Di balik asap pembakaran itu, sosok Herman (64) tampak sibuk dengan jemarinya yang legam. Meski usianya sudah tak lagi muda, pengrajin pandai besi asal Kampung Cipicungpasir RT 01/02, Dusun Mareleng ini tetap menunjukkan semangat membara saat memproses pesanan perkakas milik pelanggannya.

​Usaha kerajinan besi ini bukanlah hal baru bagi Herman. Ia telah merintis dan menekuninya selama lebih dari 40 tahun. Keahlian mengolah besi mentah menjadi alat-alat pertanian hingga tajamnya bilah golok merupakan warisan temurun dari sang buyut yang terus ia jaga hingga hari ini.

Baca Juga: Tarif Ditentukan Mang Becak, Wali Kota Sukabumi: Becak Listrik Bantu Ekonomi Rakyat

​"Selama ini kami tidak selalu membuat perkakas untuk langsung dijual bebas, tergantung pesanan saja. Kalau sedang tidak ada yang pesan, paling saya pergi ke kebun untuk bertani," tutur Herman di sela-sela aktivitasnya kepada Sukabumiupdate.com, Senin (19/10/2026).

​Ruang kerjanya terbilang sangat sederhana, hanya berukuran 2 x 2 meter dengan dinding bilik bambu yang bersahaja. Di bilik kecil inilah Herman melakoni dua profesi sekaligus: sebagai pandai besi dan seorang petani. Dalam kesehariannya, ia tidak bekerja sendirian, melainkan dibantu oleh rekannya yang berperan sebagai kenek.

​Di dalam bengkel kerja tersebut, perlengkapannya tertata ringkas: sebatang kayu besar yang dijadikan meja kerja, tempat pemanas besi berbahan arang yang diembus blower, serta deretan peralatan manual. Mulai dari mesin gurinda, pencapit, pahat pemotong, hingga variasi palu berbobot 1,5 kg, 2 kg, sampai yang seberat 4 kg.

Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi 9 Kali dalam 12 Jam, Status Masih Siaga Level III

​Ketelitian Bilah Tajam

​Proses pembuatan perkakas besi di bengkel Herman membutuhkan ketelitian serta ketahanan fisik yang tak main-main.

​Pembakaran Awal & Pemotongan: Bahan baku besi plat dibakar di atas bara arang selama kurang lebih 20 menit hingga memerah. Setelah lentur, besi dipotong sesuai bentuk yang diinginkan, seperti cangkul atau golok.

​Penyisipan Baja: Plat baja khusus dibakar lalu disisipkan ke dalam potongan besi utama untuk memberikan ketajaman dan kekuatan ekstra.

Baca Juga: Residivis, Istrinya Baru Meninggal: Terduga Pelaku Habisi IRT di Sukabumi dengan Batu

​Penyatuan & Pembentukan: Besi dan baja yang telah disisipkan kembali dibakar bersamaan, lalu ditempa berulang kali menggunakan palu berat hingga kedua material tersebut menyatu sempurna dan membentuk rangka perkakas.

​Setelah bentuk presisi didapatkan, proses dilanjutkan dengan pendinginan (sepuh) serta penghalusan akhir menggunakan gurinda.

​Menjalani profesi sebagai pandai besi tradisional di era modern tentu bukan tanpa tantangan. Kendati biaya produksi terus membengkak, terutama akibat kenaikan tarif listrik dan bahan baku. Herman enggan membebankan hal tersebut kepada para pelanggannya. Bagi Herman, menjaga kepercayaan pelanggan adalah kunci utama agar usahanya tetap bernapas.

Baca Juga: Sejak Abad ke-18 hingga Terbaru M4,1, Jejak Gempa Merusak di Sukabumi dan Bogor

​"Untuk jasa pembuatan, kami masih tahan dengan harga bersahabat. Kalau bahannya membawa sendiri dari pelanggan, tarifnya sekitar Rp 70 ribu sampai Rp 80 ribu. Tapi kalau bahannya dari sini, paling Rp 100 ribu," ungkapnya. 

​Harga ramah kantong itu ia pertahankan demi menjaga kesetiaan para pemesan. Namun, harga bersahabat itu kerap kali berbanding tipis dengan hasil yang dibawanya pulang.

​"Kami pertahankan pelanggan agar tidak kabur. Paling kalau lagi ramai, keuntungan bersih yang bisa dibawa pulang sekitar Rp 100 ribu, itu pun setelah dipotong untuk bayar gaji kenek yang kadang berjumlah dua hingga tiga orang," pangkas Herman seraya tersenyum mengusap peluh.

Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan Sukabumi Sosialisasikan Perlindungan Pekerja Informal Bersama Anggota DPR RI

​Di tengah gempuran perkakas buatan pabrik dan modernisasi, dari balik bilik bambu 2 x 2 meter di jalan Mareleng - Ciracap, Pak Herman membuktikan bahwa nyala bara dan warisan leluhur tidak pernah padam oleh waktu.

Berita Terkini