Gagal Umrah, Sepasang Lansia Babakanjampang Kota Sukabumi Hidup Dalam Kerak Kemiskinan

Jumat 20 Jan 2017, 22:31 WIB
Gagal Umrah, Sepasang Lansia Babakanjampang Kota Sukabumi Hidup Dalam Kerak Kemiskinan

SUKABUMIUPDATE.com - Pasangan lanjut usia (lansia), Mahfud (80) dan Juariah (75), warga Kampung Babakanjampang RT 01/19, Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, sangat membutuhkan bantuan. Mereka hidup di bawah kerak kemiskinan, minim perhatian keluarga, tetangga, juga pemerintah.

Walaupun memiliki rumah, namun bangunan tempat tinggal Mahfud dan Juariah saat ini jauh dari kata layak huni. Atap bocor di mana-mana, dinding sudah pada bolong dan menghitam akibat asap pembakaran. Bangunan berukuran 8 x 5 meter persegi ini, hanya terdiri dari ruang tidur dan dapur.

“Ayeuna mah sok banjir lamun hujan, da barocor. Kabeh barang tos rajet ku cai. Bapak tos teu sanggem ngomean imah,” jelas Mahfud kepada sukabumiupdate.com yang bertandang ke gubuknya, Jumat (20/1).

BACA JUGA:

Ada 300 RTLH di Setiap Desa di Kabupaten Sukabumi?

Jompo Kakak Beradik di Sukaraja Huni Rutilahu

Keluarga Miskin Ciparigi Kabupaten Sukabumi Tertipu Progam Bedah Rumah

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kedua lansia ini harus banting tulang mengais rezeki. Sebuah upaya yang sebenarnya nyaris sia-sia, karena tubuh rentanya kian rapuh dimakan usia. Tak banyak yang bisa mereka dapatkan, tapi bergantung dari upah sebagai buruh harian, adalah cara mereka bertahan hidup.

“Teu aya bantosan nanaon. BLT (bantuan lansung tunai-red) henteu, nu lain ge teu meunang,” lanjutnya.

Mahfud sempat menceritakan kisah unik mereka berdua, suatu waktu mereka bermimpi untuk berangkat umrah ke tanah suci. Mahfud dan Juariah pun memutuskan menjual rumah yang mereka tempati sebelumnya, seharga Rp3,5 juta.

“Acis na teu cekap, tos we ku bapak dibelikeun rumah ieu,” ungkapnya mengenang masa tahun 1992.

Sebenarnya pasangan lansia ini memiliki banyak anak, karena keduanya menikah ketika sudah berstatus janda dan duda memiliki anak. Namun keduanya jarang dijenguk oleh anak-anak mereka.

“Da barudak mah lain teu hayang mantuan, keur maranehna sorangan oge tos teu cekap komo kudu ngabantuan kolot,” Juariah menimpali.

Kini, dalam kondisi sakit-sakitan, kedua lansia ini tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka berharap selalu bugar, bukan saja untuk sekadar menikmati sisa hidup, tetapi lebih dari itu, mereka membutuhkan tenaga bugar justru agar bisa tetap bertahan hidup. “Ayeuna bapak sok sesek nafas, tos ripuh mun kudu leumpang jauh mah,” pungkasnya.

Editor :
Berita Terkini