SUKABUMIUPDATE.com - Semakin hari keberadaan angkutan roda tiga yang sehat dan ramah lingkungan, alias becak dan para pengayuhnya kian tersisih. Alat transportasi yang mengandalkan kekuatan otot betis pengayuhnya sebagai penggerak, tergantikan oleh ojek sepeda motor dan becak bermotor (bentor).
Kehadiaran ojek dan bentor yang lebih digemari warga, menyisakan satu hingga dua becak kayuh yang masih setia menunggu pelanggan di tempat-tempat "bersejarah". Yakni, tempat di mana puluhan becak pernah mangkal setiap harinya. Salah satu tempat bersejarah itu, Jalan Veteran, Kota Sukabumi, tepatnya di depan Gedung Juang 45.
Becak Kayuh kalah telak dalam bersaing, harga lebih murah, kecepatan, dan daya angkut lebih ada pada ojek dan bentor, secara perlahan memaksa pengguna jasa becak beralih meningalkan kebiasaan berbecakria.

Perlahan tapi pasti, becak kini berada pada fase eksistensi antara hidup dan mati. Menghadapi masa suram masa depannya, Unang Gandi kakek kelahiran Kampung Cipelangleutik, 63 tahun lalu itu, kepada sukabumiupdate.com, menceritakan masa-masa kejayaan becak di Kota Mochi ini.
"Dulu, ada ratusan becak beroperasi di Kota Sukabumi, di depan Gedung Juang 45 saja, bisa mencapai lima puluhan becak berjajar menuggu giliran narik," terangnya, Rabu (11/1).
Unang melanjutkan, jika pendapatan yang didapat saat itu terbilang lumayan. "Kalau sekarang, mungkin sekitar 100 ribu rupiah, karena saat itu becak tidak ada saingan. Paling cuma ada delman dan itu pun ongkosnya lebih mahal."
Namun, ditambahkannya, kondisi saat ini sangat jauh berbeda. Menurutnya, jika sehari bisa mendapat Rp50 ribu saja, itu sudah luar biasa baginya.
Unang menyadari jika profesi yang digelutinya hanya tinggal menunggu waktu, entah sampai kapan, ia bisa bertahan hidup bersama becak kesayangannya itu.
Namun begitu, ia juga enggan repot memikirkan persoalan itu hidupnya. Ia pasrah, dan berusaha adaptif terhadap perubahan zaman. "Ada Allah Maha Kuasa yang sudah mengatur segalanya. Jalani saja."
