Dari sebuah ruangan sederhana di Kebonpedes, Sukabumi, lahir karya seni yang tak biasa. Nay Sunarya (43) melukis bukan dengan kuas atau pensil, tetapi dengan asap dan kopi—medium yang menuntut ketelitian, kesabaran, dan ketenangan luar biasa.
Di bawah cahaya lampu minyak tanah, guratan demi guratan muncul dari jelaga yang menempel di atas kertas. Sedikit getaran saja bisa merusak seluruh karya. Namun dari proses yang penuh risiko ini, lahir lukisan yang menembus hingga Brasil lewat kolaborasi seni internasional bersama 30 negara.
Nay bukan lulusan sekolah seni. Ia belajar dari pengalaman, dari rasa penasaran sejak SD, hingga akhirnya menekuni lukisan kopi dan teknik asap sejak pandemi. Kini, karyanya diburu berbagai pemesan dengan harga Rp1–3 juta.
Meski telah dikenal luas, Nay punya mimpi sederhana: setiap desa di Kebonpedes memiliki galeri mini, ruang bagi warga untuk belajar, berkarya, dan merayakan kreativitas.
Di tangan Nay, kopi dan asap bukan sekadar bahan—melainkan cerita tentang ketekunan, keberanian berkarya, dan mimpi yang tak pernah padam. ☕🔥✨