TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
bankbjb

Kisah KH Ahmad Sanusi Gunungpuyuh Pernah Berguru di Pesantren Sukaraja Sukabumi

Penulis
Rabu 7 Sep 2022, 11:02 WIB

Ajengan Sulaeman (lahir +- tahun 1872) yang memiliki nama asli Raden Sulaeman Sukantabrata adalah anak pertama Raden Adibrata (lahir +- tahun 1851) seorang Mantri Gudang Kopi di Bojonglopang Sukabumi yang masih keturunan Bupati Sukapura ke-3 yaitu Raden Wiradadaha-III alias Dalem Sawidak alias Raden Anggadipa dari anaknya yang bernama Raden Somanagara.

photoRaden Mukti Sumartabrata dan Keluarga Tahun 1937. - (Istimewa)</span

Dari ketujuh putra Raden Adibrata, ada salah satu anak bungsunya yaitu adik bungsu dari Ajengan Sulaeman Sukantabrata yang bernama Raden Mukti Sumartabrata (lahir tahun 1896) lebih memilih profesi sebagai pegawai Post, Telegraaf en Telefoondienst Bandung dan tinggal di gang Ijan Kota Bandung tidak jauh dari rumah Letkol Eddi Soekardi pimpinan TKR Resimen III Sukabumi dan rumah Abung Kabir yang merupakan bapak dari Kapten Harun Kabir Komandan Brigade II Suryakancana/Siliwangi.

Selanjutnya sekitar tahun 1927 Raden Mukti Sumartabrata dipromosikan menjadi Adjunct Commiesaris Post, Telegraaf en Telefoondienst Baturaja Sumatra. Setelah beberapa tahun bertugas di Sumatera Barat, kemudian pada tahun 1932 dimutasi ke Bandung dan menduduki jabatan sebagai Adjunct Commiesaris Post, Telegraaf en Telefoondienst Bandung. 

Pada masa Revolusi Kemerdekaan, Raden Mukti Sumartabrata tergabung dalam Pemuda Telepon dan Telegraf dan turut mempertahankan Gedung PTT/Gedung Sate dari serbuan Tentara Gurkha pada tanggal 29 November 1945 yang mengakibatkan gugurnya 7 Orang pemuda PTT akibat ditembaki Tentara Gurkha dalam upaya mempertahankan Gedung Sate sampai titik darah penghabisan dan jenazahnya dikuburkan di halaman Gedung Sate Bandung. Hal itu dikisahkan dalam buku 'Siliwangi Dari Masa Ke Masa' di halaman 45 sampai 46 sebagai berikut:

“Sementara itu beberapa pemuda datang menghadap atasannya dan melaporkan bahwa Gedung Sate/Gedung PTT telah dikepung oleh Tentara Inggris. Oleh karena itu para pemuda atas nama kawan-kawannya bertekad untuk mempertahankan Gedung Sate dan mengharap diberikan bantuan senjata. Sekalipun fihak atasan mereka berusaha untuk mencegah niat mereka itu, namun hasrat mereka tidak dapat ditahan lagi. Mereka yang bertekad untuk mempertahankan Gedung Sate itu antara lain: Samsu, D.Kosasih, Pemuda P.T.T, satu Kompi Hizbullah, Batalyon II Resimen 8 Poniman, Paryadi, Ali Hanafiah, dengan satu peleton, Pasukan Batalyon II Resimen 9 kompi Sujana dan kompi Tatang Basyah.

Akan tetapi karena kekuatan tidak seimbang, maka akhirnya Gedung Sate/Gedung PTT berhasil dikuasai oleh Tentara Inggris setelah mereka harus melangkahi mayat-mayat para syuhada dengan penuh keikhlasan dan secara sukarela, tanpa sesuatu pamrih, menyerahkan hak milik mereka yang paling berharga bagi nusa dan bangsa. Ketujuh pemuda itu ialah: Didi Kamarga, Suhodo, Mokhtarudin, Rana, Subengat, Susilo dan Suryono”.

Setelah Indonesia merdeka, Raden Mukti Sumartabrata terakhir menjabat sebagai Kepala Pengawas Pos di Kantor Pos, Telepon dan Telegraf Besar Bandung di Gedung Sate Kota Bandung. Setelah pensiun dari pekerjaannya pada tahun 1952, R.Mukti Sumartabrata pulang ke kampung halamannya di kampung Pasir Toge, Desa Sukaraja Kecamatan Sukaraja Kabupaten Sukabumi dan hidup rukun bersama saudara-saudaranya yang salah satunya ialah Ajengan Sulaeman Sukantabrata sampai akhir hayatnya dan Raden Mukti Sumartabrata dikebumikan disamping makam ayahnya yaitu Raden Adibrata di pemakaman keluarga di kampung Pasir Toge Desa Sukaraja. 

Sedangkan Ajengan Sulaeman yang telah wafat sebelum Raden Mukti Sumartabrata menurut seorang narasumber dikebumikan di kampung Pasantren/kampung Inggris dekat makam Ibu Ratu tak jauh dari SMAN 1 Sukaraja Sukabumi, sedangkan menurut narasumber lainnya Ajengan Sulaeman dimakamkan di  TPU Ciandam Kota Sukabumi.  

Berikut ini silsilah Ajengan Sulaeman Soekantabrata dan Raden Mukti Soemartabrata:


Halaman :
BERITA TERPOPULER
Berita Terkini
x