TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
bankbjb

Sepak Terjang Civil Police dan Pao An Tui di Sukabumi: Revolusi Kemerdekaan 1945-1949

Penulis
Minggu 28 Agt 2022, 17:00 WIB

Pada waktu tentara Inggris dan Belanda menyerbu dan menguasai kota-kota di Indonesia termasuk kota Sukabumi, bapak Itjang dan rekannya bernama bapak Djaja yang tergabung dalam Kepolisian Negara R.I menolak bergabung dengan Civil Police, bahkan ikut melakukan perlawanan dan bergabung dengan TKR dan rakyat Sukabumi dan bergerilya dihutan. Sebab saat itu Sekolah Polisi Sukabumi sudah diduduki oleh C.P Belanda dan Tionghoa dan C.P Indonesia yang membelot seiring dengan ditangkapnya Kepala Kepolisian Negara R.I Jenderal R.Said Soekanto Tjokrodiatmodjo dan Kepolisian Negara RI dibubarkan oleh tentara Inggris, lalu pada tanggal 2 Januari 1946 Markas Kepolisian Negara RI dipindahkan dari Jakarta ke kota Purwokerto Provinsi Jawa Tengah. 

Dalam situasi yang tidak menentu akibat tekanan dan serangan yang terus menerus dari pihak tentara Inggris dan Belanda kepada pihak Indonesia terutama di Sukabumi,para pejuang Sukabumi melakukan pencegatan-pencegatan terhadap patroli tentara Belanda maupun truk perbekalan tentara Belanda sebagai balasan terhadap serangan tentara Belanda, hal itu pun dilakukan pula oleh bapak Itjang dan rekannya bernama bapak Djadja yaitu membajak sebuah Truk perbekalan tentara Belanda dan membunuh sopir dan kernetnya didaerah Pasekon dekat Ponpes Asy-Syafi,iyah sekarang. Akibat hal tersebut mereka diburu oleh tentara Belanda, Nefis (intel tentara Belanda) dan Civil Police, hingga pada suatu waktu bapak Itjang akhirnya tertangkap dirumah saudaranya dan dibawa ke Sekolah Polisi Sukabumi (sekarang Setukpa Polri Sukabumi) yang waktu itu dijadikan markas Civil Police Belanda, Civil Police Tionghoa dan Civil Police Indonesia yang membelot, lalu ditahan dan setiap hari disiksa habis-habisan juga di Strum, hingga dinyatakan harus di eksekusi mati. Namun Alloh SWT berkehendak lain, salah seorang C.P Indonesia yang membelot kepada Belanda bernama pak SU. rupanya teman bapak Itjang sewaktu menjadi Keibodan dahulu merasa kasihan, lalu melakukan pembelaan terhadap bapak Itjang sehingga beliau bisa dibebaskan dari tahanan dalam kondisi luka parah akibat penyiksaan Belanda tepat satu hari menjelang Agresi Militer Belanda ke-1.

Pada puncaknya, pada tanggal 21 Juli 1947 Belanda dibantu oleh C.P Tionghoa dan orang-orang Cina melakukan Agresi Militer ke-1,termasuk juga menyerbu ke Sukabumi dan mendapat perlawanan hebat dari T.R.I dan laskar rakyat salah satunya terjadi di Sukabumi Timur dan di Cisaat Sukabumi pada tanggal 10 September 1947 yang mengakibatkan hancurnya 3 buah truk tentara Belanda dan beberapa tentara Belanda mati karena menginjak ranjau darat, lalu tentara Belanda membalas dengan membakar rumah-rumah disekitarnya. Akhirnya T.R.I dan laskar rakyat seperti Hizbullah, Pesindo, Sabililah, Banteng dan lain-lain terpukul dimana-mana dan mengalami kekalahan, sehingga diadakan gencatan senjata lalu dilaksanakanlah Perjanjian antara Pemerintah Republik dengan Pemerintah Hindia Belanda diatas sebuah kapal perang Amerika bernama Renville, sehingga perjanjiannya dikenal dengan “Perjanjian Renville”. Setelah diberlakukannya hasil Perjanjian Renville, maka seluruh tentara Indonesia yang telah berganti nama menjadi T.N.I hijrah ke Ibukota Jogjakarta termasuk tentara teritorium Siliwangi pun semua hijrah ke Jogjakarta meninggalkan Jawa Barat termasuk Sukabumi yang telah menjadi wilayah Belanda hasil Perjanjian Renville.

Tetapi perintah hijrah ke Jogjakarta tersebut tidak ditaati semua oleh anggota T.N.I dan laskar rakyat. Ada sebagian yang mengundurkan diri dari T.N.I akibat kecewa dengan hasil Perjanjian Renville dan lebih memilih untuk tinggal di Jawa Barat. Pasca ditinggalkan hijrah oleh Tentara Siliwangi, rakyat Sukabumi mengalami penekanan oleh Belanda dibantu oleh orang Cina yang tergabung dalam Pao An Tui bentukan Belanda, tetapi dilawan oleh ex. anggota T.N.I dan laskar rakyat yang tidak ikut hirah ke Jogjakarta yaitu Laskar Hizbullah pimpinan K.H Ahmad Sanusi Gunung Puyuh, Sabilillah, Banteng, Brigade Tjitarum dan Pesindo hingga terjadi pertempuran di sejumlah wilayah di Sukabumi.#        

Penulis : Tedi “Rewad” Ginanjar, Pengamat dan Penelusur Sejarah/Ketua Pembina Yayasan   Cagar Budaya Nasional Pojok Gunung Kekenceng.

Referensi : 

1. Udjian Masa - Nur Sutan Iskandar,  J.B Wolters Djakarta 1952.

2. Sedjarah Tanah Air – Drs. Soeroto, Noer Komala N.V  Djakarta 1962. 

3. Di Lembur Kuring – Sjarif Amin, Ganaco N.V  Djakarta 1962.

4. Siliwangi Dari Masa ke Masa - Disjarahdam Siliwangi 1994.


Editor
Halaman :
BERITA TERPOPULER
Berita Terkini
x