TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
bankbjb

Kenali Modus Kejahatan di Dunia Perbankan dan Pentingnya Literasi Keuangan Digital

Penulis
Senin 22 Agt 2022, 19:53 WIB

photoDirektur Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Horas V.M. Tarihoran, dalam workshop Literasi Digital Perbankan Peduli Lindungi Data Pribadi. - (dok AMSI)</span

Ketiga, cyber security dimana perlu sistem yang memiliki keamanan handal dari berbagai serangan ataupun akses ilegal yang mampu mengganggu keamanan data dan informasi (cyber attack atau cybercrime). Keempat, APU-PPT, dimana penggunaan teknologi berpotensi meningkatkan aktivitas pencucian uang dan pendanaan terorisme, sehingga prinsip Apu-PPT perlu diterapkan.

Masih dalam workshop yang sama, Pemimpin Divisi Manajemen Risiko Bank BNI, Rayendra Minarsa Goenawan menegaskan literasi sebagai garda utama dalam perlindungan data konsumen. Keamanan itu tidak hanya dari pelaku jasa keuangan saja, tapi paling utama dari pemilik data sendiri dalam menjaganya. “Maka end user sebagai pemilik data adalah setiap orang yang menggunakan produk sehingga literasi harus ditingkatkan seiring kenaikan inklusi,” jelas Rayendra.

Rayendra mengungkap sejumlah modus kejahatan di dunia perbankan yang mengincar para nasabah bank. Ia mengkategorikan dua cara pencurian data nasabah bank, yaitu Skimming social engineering atau soceng.

Skimming adalah cara pencurian data informasi kartu debit dengan cara menyalin informasi yang terdapat pada magnetic stripe kartu debit secara ilegal. “Biasanya data yang dicuri kemudian dipindahkan ke kartu palsu (counterfeit), lalu kartu palsu itu digunakan pelaku untuk transaksi tarik tunai melalui ATM, transaksi belanja melalui EDC, atau transfer melalui VS atau antar bank.

“Pencurian data melalui kartu. Pada jaman digitalisasi, transaksi melalui HP. Transaksi melalui Kartu menjadi primadona karena memberikan kemudahan. Di Indonesia masih banyak yang gunakan bisnis kartu ini, kita kenal dengan e-money,” ucap Rayendra.   

BNI menyebut skimming dilakukan dengan 4 cara. Pertama konvensional dimana pelaku memasang perangkat keras (hardware) berupa bezel palsu yang sudah dilengkapi dengan baterai, memory card dan card reader di bagian mulut ATM untuk mencuri data kartu.

Cara kedua Deep Insert Skimmer, dimana pelaku memasang perangkat keras (hardware) berupa plat tipis ke dalam modul card reader. Biasanya sudah dilengkapi piranti untuk mencuri data kartu yang masuk.

Ketiga Router, pelaku memasang perangkat router yang sudah dilengkapi wifi dengan melepas kabel jaringan komunikasi dari mesin ATM ke kantor perbankan. Jaringan disambungkan melalui kabel ke router pelaku.

Keempat Hidden Camera. Dimana pelaku memasang hidden kamera di sekitar ATM yang tidak terlihat oleh nasabah untuk mencuri data pin ATM.


Editor
Halaman :
BERITA TERPOPULER
Berita Terkini
x